Akhirnya, “teka-teki” siapa Direktur Bank Aceh Syariah (BAS) terjawab. Hari ini, melalui Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Muhammad Syah yang sudah disetujui sebagai Dirut BAS oleh OJK ditetapkan dan dilantik sebagai Dirut BAS periode 2023 – 2027.

Advertisement
Infografis Pemilihan Dirut BAS

Pemilihan Dirut BAS yang berlangsung dalam dua periode itu, bisa dibilang bercampur antara fakta dan rumor, baik di periode Nova Iriansyah maupun di periode Achmad Marzuki.

Keduanya adalah Gubernur Aceh dan Pj Gubernur Aceh selaku Pemegang Saham Pengendali (PSP) BAS yang sudah pasti ikut menentukan jalannya proses pemilihan calon Dirut BAS menggantikan Haizir Sulaiman yang pensiun sejak 8 Oktober 2022.

Pada periode Nova Iriansyah, pemilihan Dirut BAS sudah berlangsung sejak 9 Mei 2022 dengan semangat agar tidak terjadi kekosongan nakhoda BAS dalam waktu lama.

Hanya saja, kerja Nova hanya sampai 28 Juni 2022. Pada tanggal ini, Nova menyetujui 3 nama calon untuk disampaikan kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK) guna mengikuti fit and proper test.

Nova Iriansyah dan Achmad Marzuki

Namun, Nova mengakhiri tugasnya sebagai Gubernur Aceh pada 4 Juli 2022. Tugas selanjutnya otomatis diteruskan oleh Achmad Marzuki yang dilantik sebagai Pj Gubernur Aceh pada 6 Juli 2022,

Permintaan OJK pada 12 Juli 2022 agar hanya mengirim dua nama saja, dua hari kemudian (12 Juli 2022) Achmad Marzuki memilih dua nama dari tiga nama yang sudah dipilih oleh Nova sebelumnya.

Namun, kedua nama yang mengikuti fit and proper test pada 21 November 2022, oleh pihak OJK, melalui surat bertanggal 12 Oktober 2022, tidak disetujui sebagai Dirut BAS.

Sejak itu, bergolak berbagai isu, tuduhan hingga tuntutan. Rumor paling menyengat pada Juni 2022 adalah proses seleksi di masa Nova disebut hanya rekayasa untuk kepentingan pribadi Nova yang ingin mengincar proyek pembangunan gedung utama BAS.

Kegagalan fit and proper test juga memunculkan tuduhan sebagai ketidakbecusan Dewan Komisaris BAS karena melakukan seleksi tertutup. Dari sini muncul tuntutan untuk mengantikan Dewan Komisaris BAS.

Bahkan, ketika Pj Gubernur Aceh hanya meneruskan dua nama dari tiga nama yang sudah dipilih oleh Nova sebelumnya juga muncul isu bahwa Pj Gubernur Aceh sudah disesatkan oleh pembisik.

Komisaris Utama Taqwallah juga diserang isu tak sedap. Taqwallah dituduh menemui Sekda Aceh, dan nangis-nangis minta tidak dicopot sebagai Komut BAS.

Puncak isu, rumor dan tuntutan mengerucut pada Diskusi Publik yang digelar PWI yang melahirkan tuntutan agar pemilihan Dirut BAS dilakukan secara terbuka, boleh diikuti siapa saja, dengan semangat untuk memperoleh Dirut BAS yang profesional.

Dalam forum diskusi yang berlangsung pada 27 Oktober 2022 itu juga muncul penjelasan OJK Aceh yang menyebut BAS butuh sosok extraordinary. Sempat juga dijelaskan bahwa kedua calon bukan tidak memiliki integritas dan kompetensi, melainkan belum tepat memimpin BAS yang membutuhkan sosok yang tidak biasa.

Pj Gubernur Aceh selaku Pemegang Saham Pengendali BAS, Achmad Marzuki

Seleksi Periode Achmad Marzuki
Pada hari yang sama juga muncul konperensi pers Dewan Komisaris (KRN) untuk menyampaikan perihal seleksi terbuka. Sehari sebelumnya Pj Gubernur Aceh menyampaikan arahan, antara lain agar dilakukan proses seleksi terbuka untuk umum dengan melibatkan pihak LPPI.

Usai dilakukan pengumuman pendaftaran calon Dirut BAS di media sejak 1 – 14 November 2022 berkembang harapan dipublik untuk menemukan Dirut BAS yang profesional, baik itu dari kalangan internal maupun dari eksternal.

Dalam prosesnya, berbagai rumor muncul kembali, salah satunya adalah calon dari internal tidak ada yang berani mendaftar karena takut dengan Taqwallah.

Faktanya, terjaring 13 pendaftar baik dari internal BAS maupun dari kalangan luar BAS, yang setelah dilakukan verifikasi administrasi terpilih 6 nama pendaftar. Proses inipun memunculkan tuduhan bahwa KRN tidak fair dan tidak terbuka dalam melakukan verifikasi administrasi. Lagi-lagi muncul tuntutan agar mengganti Dewan Komisaris BAS.

Tuntutan lain yang muncul adalah agar proses penentuan calon dibahas dalam RUPS-LB, baru hasilnya dikirim ke OJK untuk mengikuti uji kemampuan dan kepatutan.

Rumor yang mengandung tuduhan paling parah terjadi ketiga dokumen LPPI yang merekomendasikan tiga nama untuk dipertimbangkan sebagai Dirut BAS bocor. Dokumen bertanggal 29 November 2022 itu berisi tiga nama yaitu Nana Hendriana, Asep Saifudin dan Muhammad Syah.

Dua nama langsung diisukan punya kedekatan hubungan dengan Pj Gubernur Aceh, yang satu disebut teman SMA dan satu lagi disebut calon sekampung kelahiran, Sunda.

Maka berkembanglah spekulasi bahwa Pj Gubernur Aceh hanya akan mengirim dua nama, dan bukan putra Aceh. Spekulasi ini kemudian menimbulkan tuntutan berbau sentimen keacehan dengan mengatakan putra Aceh harga mati memimpin BAS.

Padahal, dari tiga nama yang direkomendasi LPPI, faktanya pada 5 Desember 2022, Pj Gubernur Aceh memilih dua nama yaitu Nana Hendriana dan Muhammad Syah untuk menjalani fit and proper test OJK.

Muncullah tuntutan-tuntutan yang makin keras menyuarakan agar yang memimpin BAS wajib orang Aceh. Suara dan spirit awal agar terpilih sosok profesional, siapun dia, lewat seleksi terbuka, seperti ditelan angin, menghilang.

Bagaimanapun, penentu akhir adalah pihak OJK lewat fit and proper test yang digelar 19 Januari 2023. Bahkan, ketika hasil pilihan OJK (14 Februari 2023) sudah bocor ke publik, ada yang muncul menyampaikan tekanan agar yang memimpin BAS harus putra Aceh dari kalangan internal BAS.

Ada yang menilai tuntutan itu hanya sebatas gimmick untuk mengesankan kepada Direktur BAS terpilih bahwa dirinya memiliki andil dalam menentukan siapa calon Direktur BAS.

Meski banyak pihak sudah mengetahui siapa Direkrur BAS, rumor tidak otomatis berlalu. Nama calon terpilih yang disebut-sebut kembali diisukan terlibat kasus kredit petani singkong di Aceh Tamiang.

Penjabat (Pj) Gubernur Aceh, Achmad Marzuki didampingi Sekda Aceh Bustami beserta para Asisten dan Ka. SKPA/Biro terkait saat menggelar Raker bersama Bupati/Walikota dan Sekda Kab/Kota, di Meuligoe Gubernur Aceh, Rabu (8/3) Banda Aceh.

Pj Gubernur Aceh, dalam Raker Bupati/Walikota, Rabu (8/3) saat menyampaikan fakta-fakta terkait pemilihan Dirut BAS periode dirinya (26 Oktober 2022 sd 14 Februari 2023) sempat menyinggung rumor atau isu yang berkembang, khususnya yang mengaitkan dua calon memiliki kedekatan hubungan dengan dirinya.

“Gawat, bikin dosa tidak tanggung-tanggung, harusnya takut-takutlah, dikit, ini ndak loh,” kelakarnya.

Muhammad Syah dilantik sebagai Dirut BAS Periode 2023 – 2027

Begitulah alur proses pemilihan Dirut BAS yang berlangsung dalam dua periode yang memakan waktu 10 bulan lamanya, hingga terakhir OJK menyetujui Muhammad Syah sebagai Dirut BAS pada 14 Februari 2023.

Hari ini, usai melantik Direktur Utama BAS, Muhammad Syah, Pj Gubernur Aceh berharap BAS makin maju dan makin berkembang serta berpihak kepada UMKM. []

Previous article18 Bulan Lagi Menuju PON Bersejarah di Aceh
Next articleTegak Lurus Achmad Marzuki dalam Suksesi Dirut Bank Aceh dan Isu Sunda Empire

Leave a Reply