Banda Aceh, RUBRIKA — Awarding Night Aceh Decomentary di Hermes Hotel Senin, 7 November 2022 malam, sepenuhnya menjadi malamnya para seniman.

Advertisement

Pasalnya sederhana. Meski kegiatan milik sineas Aceh itu didukung anggaran Pemerintah Aceh, namun karena diberi sentuhan awal yang ringan nan kocak oleh Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Aceh, jadilah suasana malam yang sebelumnya dingin usai diguyur hujan, jadilah hangat.

“Meski malam, tapi semangat kita harus tetap pagi ya,” kata Almuniza Kamal sebelum menyampaikan sambutan mewakili Sekda Aceh, Bustami.

“Pagi,” teriak sosok yang akrab disapa Al.
“Pagi, pagi, pagi,” sambut hadirin serentak.
“Waduh, itu gaji namanya hahahaha,” canda Al yang tampak tertawa lepas disambut tawa para tamu undangan yang hadir.

Suasana pun kembali cair ketika Al menyampaikan pantun.

“Malam ini hujannya sejuk,” ungkap Al memulai pantun ringannya.
“Jroehhhh,” sambut para tamu.
“Enaknya nonton sambil ngopi,” tambah Al yang kembali disambut “jroehhhh” oleh hadiran.
“Agar acara malam ini seru,” lanjut Al.”
“Selamat datang di acara Awarding Niht Aceh Docimentary,” tutup Al disambut tepuk tangan semua tamu undangan.

Almuniza memastikan Pemerintah Aceh mengapresiasi peran komunitas Aceh Documentery (ADoc) dalam memajukan dunia perfilman, yang mampu menciptakan lapangan kerja baru untuk mengurangi angka pengangguran di Tanah Rencong.

“Kami berharap dengan peran serta kita semua dapat melahirkan pelaku-pelaku ekonomi kreatif yang akan menciptakan lapangan kerja baru bagi anak-anak Aceh di usia produktifnya,” katanya.

Almuniza menambahkan, Aceh terus melakukan pembangunan sektor pariwisara dan ekonomi kreatif (Parekraf) melalui berbagai kegiatan yang diselenggarakan.

Upaya itu diharapkan memberikan dampak positif terhadap peningkatan ekonomi masyarakat.

“Kami telah melakukan beberapa kegiatan sebagai upaya peningkatan SDM dunia perfilman, serta produksi beberapa film pendek maupun video promosi oleh sineas-senias Aceh. Kemenparekraf/Baparekraf juga memberikan perhatian untuk pengembangan perfilman Indonesia,” sebutnya.

Menurutnya, karya-karya yang diberikan anugerah kegiatan ini merupakan hasil kreativitas para siswa dan pemuda di Aceh. Apresiasi ini merupakan langkah awal yang kemudian film terpilih akan diikutkan dalam festival film nasional sebagai bagian dari diaspora lokal ke nasional.

“Mari kita jadikan Aceh sebagai pusat pembelajaran dokumenter Indonesia karena ada banyak peristiwa dari Aceh yang menginspirasi, serta memiliki pesan kebudayaan. ‘Lestarikan Budaya, Majukan Pariwisata’,” pintanya.

Almuniza juga mengajak untuk meningkatkan kapabilitas dan kreativitas dalam mengkaryakan film yang lebih baik di masa mendatang. Dan berharap kegiatan serupa dapat dilaksanakan setiap tahun sehingga akan menjadi ajang bagi para sineas di Aceh untuk terus mengasah bakat dan kemampuannya dalam mempromosikan wajah Aceh melalui media film.

Sebelumnya, Ketua Yayasan Aceh Documentary, Faisal Ilyas mengatakan sejak lima tahun terakhir, keberpihakan Pemda terhadap dunia perfilman cukup baik.

Pihaknya optimis industri perfilman di Aceh bisa banyak berbicara di kancah nasional. Namun, kata dia, semua usaha itu membutuhkan kolaborasi dengan berbagai pihak.

“Sebuah film tidak bisa diselesaikan oleh produser, sutradara, kameramen, dan lain-lain. Kita membutuhkan kolaborasi,” sebutnya.

Menurunya, perjalanan Aceh Documentary menuju 10 tahun ini adalah kolaborasi kami untuk perfilman Indonesia. Kami perlu belajar, diberi masukan, guna membantu kebudayaan melalui akselarasi film,” pungkasnya.

Pada malam Awarding Night Aceh Documentary di Hermes Hotel itu turut hadir, Direktur Pembinaan Tenaga dan Lembaga Kebudayaan Kemendikbudristek, Judi Wahyudin dan Anggota DPR Aceh, Abdurrahman Ahmad. []

Previous articleKetua Komisi VI DPRA: Alhudri Tunjukkan Iktikad Baik untuk Dongkrak Kualitas Pendidikan Aceh
Next articleBank Aceh Luncurkan Internet Banking Corporate Action Bisnis di Hari Pahlawan
Gratis Transfer Antar Bank Hingga 31 Desember 2022

Leave a Reply