APALAH arti sebuah nama. Andai dibuat nama lain, selain Nusantara, tetaplah itu ibu kota negara baru yang berlokasi di Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur (Kaltim).

Advertisement

Argumen yang merujuk pada ungkapan William Shakespeare (26 April 1564-23 April 1616) itu meski membantu untuk menerima saja nama yang sudah dipilih, tapi tidak cukup untuk menyudahi ikhtiar menemukan nama yang tepat untuk nama IKN baru.

Bersandar kepada Bung Hatta, ketika menyetujui nama Indonesia sebagai ganti nama Hindia Belanda atau Hindia jelas menegaskan bahwa pada nama Indonesia itu menyatakan tujuan politik.

Lantas, apakah Nusantara cukup menggambarkan tujuan atau cita-cita dari ibu kota negara baru di masa depan yang oleh Presiden RI disebut untuk mewujudkan pemerataan dan keadilan ekonomi?

Apakah Nusantara sudah mewakili gambaran dari rancangan ibu kota baru yang oleh Presiden RI disebut akan bersandar pada konsep modern, smart city dan green city?

Sampai di sini, pilihan nama Nusantara sejujurnya belum menegaskan apa yang dimaui oleh Presiden RI . Patut diduga, pilihan nama Nusantara lebih dekat untuk menarik hati Megawati sebagai Presiden RI yang meresmikan Hari Nusantara.

Bisa jadi juga nama Nusantara untuk sekedar membulatkan dukungan wakil rakyat (MPR/DPR/DPD) yang berkantor di Gedung Nusantara.

Lebih dari itu, Nusantara justru merujuk kepada Indonesia itu sendiri. Jauh ke belakang, Nusantara menggambarkan negeri taklukan Majapahit di luar Mancanegara dan Negara Agung.

Lebih jauh lagi Nusantara tidak hanya merujuk kepada negeri-negeri yang sekarang menjadi Indonesia, tapi juga negeri-negeri lainnnya, di luar negeri-negeri yang sekarang menjadi Indonesia.

Tentu tidak elok jika nama ibu kota negara baru dibaca sebagai spirit baru dari Indonesia yang akan memperluas teritorinya merujuk ke teritori Nusantara yang dipahami di masa lalu.

Juga tidak cukup elegan jika nama Nusantara dibaca secara politik sebagai upaya untuk mewujudkan cita-cita Gajah Mada menaklukkan negeri-negeri diluar Negara Agung. Bahkan, tidak cukup enak jika hadir bacaan walau sekedar menyebut upaya politik untuk mempertahankan spirit Jawa Sentris.

Agar terhindar dari ragam tafsir yang dapat merusak maksud dan tujuan dari Presiden RI dalam hal pemindahan ibu kota maka sangat tepat bila nama ibu kota baru diambil dari hasil perdebatan segenap warga Indonesia.

Doeloe saja, nama Indonesia tidak muncul tiba-tiba. Bahkan, akhirnya tokoh-tokoh bersedia mengambil nama yang dimunculkan oleh orang asing karena memiliki basis argumen yang kuat. Oleh tokoh-tokoh nama Indinesia lalu diberi pemaknaan yang menggambarkan cita-cita segenap rakyat Indonesia. []

Previous articleDukung Gerakan Zakat Indonesia, Gubernur Aceh Terima Anugerah BAZNAS Award 2022
Next articleJangan Melampaui Batas

Leave a Reply