Aceh kembali termiskin di Sumatera. Dana otsus banyak. Tapi, tidak mampu juga keluar dari posisi provinsi termiskin di Sumatera. Miris!

Advertisement

Begitulah narasi yang ada saban enam bulan sekali seusai media mempublikasikan laporan Badan Pusat Statistik.

Berbagai pihak pun kompak menohok Pemerintah dan DPR Aceh. Jadilah status provinsi termiskin sebagai bagian dari “ayat-ayat politik” ritual suksesi lima tahunan.

Irwandi pernah dinilai tidak cukup cakap. Karena itu dipilih Zaini Abdullah. Zaini Abdullah ternyata juga dikontruksikan tidak cukup agresif maka dipilih kembali Irwandi Yusuf.

Masih terekam jejak pernyataan Zaini Abdullah dulu. Menurutnya, Irwandi gagal, administrasi Aceh buruk, dan korupsi merajalela.

Dalam dokumen visi dan misi Zaini – Mualem juga disertakan soalan kemiskinan Aceh. Untuk melemahkan ikhitiar Irwandi – Nazar dalam menurunkan angka kemiskinan, angka kemiskinan Aceh dibenturkan dengan rata-rata nasional.

Disebutkan, angka kemiskinan di Aceh masih tinggi jika dibandingkan dengan rata-rata nasional yang hanya 12,36 persen, sedangkan penduduk miskin di Aceh lebih tinggi yaitu 19.48 persen.

Irwandi Yusuf kemudian membalas dikesempatan Pilkada yang mengantarnya meraih kemenangan bersama Nova Iriansyah.

Juga dalam visi dan misi, angka kemiskinan di Aceh disebut sudah sangat mengkhawatirkan, yaitu 17,11% dan berada diatas rata-rata nasional (11,22%).

Jika Zaini – Mualem hanya memakai perbandingan dengan rata-rata nasional, dalam visi dan misi Irwandi – Nova juga ikut disertakan perbandingan dengan provinsi yang ada di Sumatera.

Disebutkan, Aceh tertinggal jauh dibandingkan Sumatera Utara (10,79%) dan Sumatera Barat (6,71%), padahal jumlah anggaran pembangunan Aceh lebih besar dibandingkan dua provinsi ini.

**

Mari sejenak, tanpa marah-marah, kita kupas kontruksi kemiskinan Aceh dari sisi gerak kerja penurunan angka kemiskinan di Aceh.

Untuk itu, kita pinjam angka kemiskinan Aceh tahun 2000 sebagai angka pegangan, yang kita sebut sebagai titik zero. Titik zero itu adalah 15.20 persen.

Singkat cerita, angka kemiskinan Aceh di titik zero itu terseret ke titik minus hingga mencapai puncak tertinggi pada tahun 2002 hingga tahun 2005.

Paska tsunami, kerja menarik angka kemiskinan dari titik minus menuju titik zero kembali dilakukan. Berkat dukungan anggaran rehab – rekon titik minus angka kemiskinan Aceh berhasil diperkecil hingga menjadi 26.70 persen pada 2007.

Dan sejak Dana Otsus berlaku pada 2008, titik minus angka kemiskinan Aceh kembali bisa diperkecil, menjadi 19.50 persen pada tahun 2012. Dan menjadi 16.89 persen pada tahun 2017.

Itu artinya, dari 2008 sampai dengan 2017, upaya mengembalikan angka kemiskinan ke titik zero belum tercapai. Jika sudah tercapai maka angka kemiskinan Aceh sudah pasti lebih rendah dari angka ikat tahun 2000 yaitu 15.20 persen.

Tahun 2019, ketika Nova Iriansyah “ditinggal sendiri” untuk memimpin jalannya roda Pemerintah Aceh, angka kemiskinan nyaris mendekati titik zero, yaitu 15.32 persen pada Maret 2019.

Pada September 2019 dengan persentase angka kemiskinan 15.01 persen, maka artinya angka kemiskinan Aceh sudah melewati titik zero (15.20), bahkan secara angka yang ada, sudah memulai take off ke titik plus.

Dan, pada Maret 2020 dengan angka 14.99 persen, untuk pertama sekali, angka kemiskinan Aceh lebih rendah dari Bengkulu. Saat itu terjadi, hanya sedikit kabar yang mengangkat judul Aceh Terbebas dari Kutukan Provinsi Termiskin di Sumatera.

Dulu, konflik dan tsunami jelas memberi imbas bagi melambungnya angka kemiskinan di Aceh. Kini, imbas dari pandemi corona juga ikut menyeret kembali angka kemiskinan di Aceh ke titik minus.

Terbukti, September 2020 angka kemiskinan Aceh kembali melewati angka di titik zero, menjadi 15.43 persen. Namun, pada Maret 2021, meski masih di titik minus, tanda-tanda baik mulai terlihat lagi, angka kemiskinan turun menjadi 15,33 persen.

Dampak pandemi corona bukan hanya melanda Aceh. Secara nasionalpun terkena imbasnya. Menurut Bank Dunia, Indonesia turun kelas, dari negara berpendapatan menengah atas (upper middle income country) pada 1 Juli 2020 menjadi
negara berpenghasilan menengah bawah atau lower middle income pada 1 Juli 2021 ini.

Persentase penduduk miskin di Indonesia meski turun sebesar 0,05 persen pada Maret 2021 dibanding September 2020 namun tren peningkatan kemiskinan sudah terjadi sejak Maret 2020 bahkan kembali menjadi dua digit pada September 2020.

Bank Dunia, bahkan pernah memprediksi bahwa akan terjadi kondisi perekonomian yang suram sebagai imbas dari pandemi virus corona. Dengan begitu diperkirakan sekitae 150 juta orang berpotensi jatuh miskin.

Presiden Bank Dunia, David Malpass juga pernah menyebut bahwa angka itu bisa lebih tinggi jika pandemi memburuk atau berlarut-larut.

Prediksi yang disampaikan tahun lalu itu posisinya ketika 22 juta orang di 213 negara terinfeksi corona.

Hari ini, melansir Worldometers, Jumat (16/7/2021) pukul 23.59 WIB, virus corona telah menginfeksi 190 juta orang di seluruh dunia. Di Indonesia sendiri terdata 2.7 juta kasus.

Total angka kematian Covid yang tembus 71 ribu orang nyaris mendekati angka orang hilang karena tsunami Aceh 17 tahun lalu sebesar yaitu 93.285 orang.


Itulah gambaran utuh kontruksi kemiskinan Aceh dari sisi kerja atau ikhtiar berkelanjutan menurunkan angka kemiskinan Aceh. Ikhtiar itu, tidak hanya melibatkan dana rehab rekon tapi juga dana otsus, sejak 2008.

Sudah tentu, jika tidak ada dukungan dana rehab rekon dan dana otsus, ikhtiar menurunkan angka kemiskinan dari puncak titik minus menuju titik zero dan bergerak ke titik plus pasti menjadi semakin sulit lagi.

Untuk diketahui, titik minus terbesar ada pada tahun 2002 – 2003 yakni 29.80 persen. Tahun 2004 turun sedikit menjadi 28.40 persen.

Dengan anggaran rehab rekon sebesar 106 triliun angka kemiskinan menjadi 21.81 persen di tahun 2009 dari 28.69 persen di tahun 2005. Dan, dengan dukungan Dana Otsus sebesar 88 triliun, sejak 2008 kini angka kemiskinan ada di angka 15.33 persen setelah sempat melewati titik zero yaitu 14.99 persen pada Maret 2020.

Dengan gambaran kontruksi kemiskinan Aceh itu, jika boleh bertanya, siapakah yang sedang kita ejek? Atau, sebenarnya kita sedang menyoraki bau kentut sendiri, sambil menunjuk-nunjuk pantat orang yang sedang kita jadikan calon korban sebagai sesembahan di ritual suksesi politik berikutnya? Jangan marah!

Previous articleKetua PKK Aceh Resmikan Implementasi RGG Percontohan Di Gampong Meunasah Kulam Pijay
Next articleTerima Sapi Kurban Presiden, Masyarakat Aceh Besar Berterima Kasih Pada Gubernur

Leave a Reply