Muktamar ke XXXI Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia bisa dibilang sebagai “Muktamar Perang.” Pada muktamar inilah akan dipilih Ketua IDI Pusat sebagai Panglima yang akan memimpin Perang Melawan Covid-19.

Advertisement

Dunia memang sedang memerangi Covid-19, begitu juga dengan Indonesia. Sejak Maret 2020, jumlah tenaga medis yang gugur karena paparan Covid-19 sudah melebihi angka 600 orang.

Menurut Tim Mitigasi Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) mengungkap, tingkat kematian tenaga medis dan kesehatan di Indonesia merupakan yang tertinggi di Asia.

Sejak Maret 2020 atau pada saat kasus pertama Covid-19 muncul di Indonesia hingga Januari 2021, terdapat 647 petugas medis dan kesehatan yang gugur akibat terinfeksi virus corona.

Jumlah itu terdiri atas 289 dokter (16 guru besar) dan 27 dokter gigi (3 guru besar), 221 perawat, 84 bidan, 11 apoteker, dan 15 tenaga lab medik.

Adapun para dokter yang meninggal terdiri atas 161 dokter umum (4 guru besar), dan 123 dokter spesialis (12 guru besar), serta 5 residen, yang keseluruhannya berasal dari 26 IDI Wilayah (provinsi) dan 116 IDI Cabang (Kota/Kabupaten).

Sementara itu, terhitung 14 Februari 2021 total kasus positif virus corona sudah mencapai 1.217.468 kasus sejak pertama kali diumumkan pemerintah pada awal Maret 2020.

Sungguh keadaan “perang” yang membutuhkan Panglima Perang yang cakap untuk menjalankan strategi perang yang dirumuskan bersama di Muktamar ke XXXI nantinya.

Aceh, sebagai negeri yang terkenal dengan sejarah perangnya, tentu sangat cocok untuk dipilih sebagai tempat atau lokasi pelaksanaan Muktamar ke XXXI PB IDI.

Lebih dari itu, Gubernur Aceh Nova Iriansyah juga pernah mengutip pemikiran Sun Tzu untuk mengamankan kemenangan perang dengan cara mengenali musuh, diri dan lingkungan pertempuran.

Untuk maksud itu, muktamar menjadi ajang strategis untuk merumuskan beragam kebijakan dan pandangan yang berguna bagi mamaksimalkan barisan pertahanan terakhir tenaga medis dalam perang melawan Covid-19 sehingga bukan hanya dapat mengantisipasi bertambahnya tenaga medis yang gugur melainkan untuk memastikan Indonesia menang atas perang melawan Covid-19.

Dan untuk itulah mengapa Muktamar IDI ke XXXI penting dan sangat cocok dilaksanakan di Aceh. Aceh terbukti mampu menggelar perang panjang dan semesta dan kita semua kini juga sedang berada di perang nan panjang yang membutuhkan perlawanan semesta.

Sekda Aceh juga sudah menyatakan dukungannya untuk mendukung pelaksanaan Muktamar IDI jika Aceh dipilih sebagai lokasi pelaksanaan. “Semua sudah ada takdirnya, kita hanya beriktiar untuk kesiapan pelaksanaannya,” kata Taqwallah.

IDI, mari bermuktamar di Aceh

Leave a Reply