Banda Aceh, RUBRIKA.ID – Penderita Corona Virus Disease (Covid-19) di Aceh mendadak bertambah sebanyak 10 orang dalam sepekan terakhir. Satu orang diantaranya meninggal dunia di Rumah Sakit Umum dr Zainal Abidin Banda Aceh, Rabu (17/6/2020) sekitar pukul 11.00 WIB.

Advertisement

Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Pemerintah Aceh, Saifullah Abdulgani (SAG) mengatakan, penderita yang meninggal dunia pada Rabu siang tadi adalah SUK yang merupakan warga Brandan Barat, Sumatera Utara. Informasi yang disampaikan tim surveilans Gugus Tugas Covid-19, SUK sebelum dirawat sempat berkunjung ke rumah anaknya di kawasan Lambaro, Aceh Besar.

“Ia tiba pada 12 Juni 2020,” kata SAG.

SUK mengeluhkan sakit pada Selasa (16/6/2020). Dia kemudian dibawa oleh keluarganya untuk berobat ke Rumah Sakit Pertamedika. Tim medis kemudian merujuk SUK ke RSUDZA pada hari yang sama.

Setiba di RSUDZA, tim medis menemukan gejala pneumonia dan penyakit penyerta lainnya, karena itu diambil swab tenggorokan dan hidung pada 16 Juni 2020, dan hasil pemeriksaan dengan RT-PCR terkonfirmasi SUK positif Covid-19.

“Tim Medis Respiratory Intensive Care Unit (RICU) RSUDZA Banda Aceh berusaha keras merawat SUK, sesuai prosedur medis penanganan pasien Covid-19 untuk kesembuhannya. Namun ikhtiar tim medis selesai ketika Allah SWT memberikan yang terbaik kepada hamba-Nya. SUK menghembuskan nafas terakhirnya saat dalam penanganan medis pada 17 Juni 2020, sekira pukul 11.00 WIB, dan dimakamkan sesuai dengan Protokol Kesehatan Covid-19,” kata SAG.

Selain SUK, dua orang lainnya yang disebutkan positif Covid-19 adalah RR (18) dan MI (29).

RR merupakan warga Aceh Selatan yang memiliki riwayat ke daerah penularan lokal di Sumatera Utara. Berdasarkan hasil rapid test dan pemeriksaan swab menggunakan RT-PCR diketahui RR positif terinfeksi virus corona. Kini RR dirawat di RSU Aceh Selatan.

Sementara MI merupakan karyawan sebuah bank swasta di Banda Aceh. Dia berasal dari Medan, tetapi tinggal di Banda Aceh.

MI diketahui positif Covid-19 setelah keluar hasil rapid reaktif dan uji swab menggunakan RT PCR. MI kemudian dirawat di Ruang Isolasi Pinere RSUDZA Banda Aceh sejak Rabu (17/6/2020).

Klaster Aceh Utara

Selain tiga orang dari Banda Aceh, Aceh Besar dan Aceh Selatan tersebut, terdapat tujuh penderita baru Covid-19 yang berasal dari Aceh Utara dan Lhokseumawe.

Berdasarkan informasi yang disampaikan SAG, ke tujuh orang tersebut masing-masing berinisial HM (10), MN (18), MY (65), SN (53), MW (65), YN (44), dan KA (49).

Mereka diketahui tertular virus corona setelah tim surveilans melacak orang-orang yang pernah kontak erat dengan salah satu, dari tujuh orang yang sebelumnya dinyatakan positif Covid-19, baik dari Lhokseumawe maupun Aceh Utara. Tujuh orang yang dimaksud adalah MS (42), DL (41), JB (16), MH (14), YI (13), RM (63), dan SH (45).

“Tim Surveilans melacak semua orang yang merupakan kontak erat dengan mereka, sesuai protokol penanganan Covid-19,” ujar SAG.

Begitu MS dan DL diketahui positif Covid-19 pada 6 Juni 2020, tim surveilans kemudian mengambil sampel swab terhadap 33 orang kontak eratnya, dan dikirim ke Laboratorium Balai Litbangkes Aceh untuk diperiksa dengan RT-PCR. Hasilnya diperoleh pada 13 Juni dan 16 Juni 2020.

Hasil yang diperoleh pada 13 Juni 2020, ternyata lima orang konfirmasi positif Covid-19, yakni JB, MH, YI, dan RM, dari Kota Lhokseumawe. Sedangkan SH dari Aceh Utara.

Kemudian menyusul hasil pada 16 Juni 2020, terungkap lagi tujuh orang positif, yakni HM, MN, MY, SN, MW, YN, dan KA.

“Semuanya warga Aceh Utara,” kata SAG.

Sementara itu, lanjutnya, sebanyak 90 spesimen swab hasil surveilans lainnya sedang diperiksa di Litbangkes Aceh. Spesimen tersebut milik orang-orang kontak erat dengan salah satu dari lima orang Covid-19 yang terkonfirmasi positif pada 13 Juni 2020.

Tim surveilans juga sedang melacak dan mengambil swab orang-orang yang kontak erat dengan salah satu dari tujuh orang positif Covid-19, yang terbaru di Aceh Utara.

SAG melanjutkan, sampai saat ini tim surveilans belum dapat mengurai siapa orang pertama yang menjadi pembawa (carier) Virus Corona itu, yang kemudian menularkannya secara berantai kepada orang-orang yang kontak erat dengannya, baik di Kota Lhokseumawe maupun di Aceh Utara.

“Secara epidemiologis, kasus pertama itu harus diketahui agar mudah memutuskan pola penularan virus yang mematikan tersebut,” ujar SAG yang gelar M.Kes nya juga berbasis Epidemiologi Komunitas itu.

Dia berharap penderita Covid-19, keluarga, maupun masyarakat sekitar pasien memberikan informasi jujur kepada tim surveilans yang menemuinya. Informasi ini dianggap penting agar tidak jatuh korban berikutnya.

Menurut SAG, Tim Surveilans juga harus mengetahui riwayat perjalanan 14 hari terakhir orang yang terkonfirmasi positif Covid-19. Dia juga berharap orang yang pernah kontak dekat dengan penderita untuk proaktif melapor kepada petugas kesehatan terdekat.

“Kasus Covid-19 di Kota Lhokseumawe dan Kabupaten Aceh Utara paling banyak saat ini dan sudah menjadi klaster tersendiri. Mari kita semua berkata apa adanya, lebih pro aktif, dan bersama-sama melawan virus corona yang mengancam semua orang,” harap SAG.

SAG meminta masyarakat tidak panik menyikapi lonjakan kasus Covid-19 dalam sepekan terakhir, dan terbentuknya klaster Covid-19 di Lhokseumawe dan Aceh Utara. Akan tetapi, SAG berharap warga Aceh lebih disiplin menjalankan protokol kesehatan pencegahan penularan virus corona dalam setiap aspek kehidupannya.

“Virus corona itu memang tak kasat mata, tetapi korban-korbannya sudah di depan mata kita. Karena itu mari menyikapinya dengan cara yang lebih serius, rasional, dan pro aktif menangkal penularannya secara personal maupun bersama-sama masyarakat, dan pemerintah daerah,” imbau SAG.

Menurutnya Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Aceh terus berkoordinasi dengan Gugus Tugas kabupaten/kota untuk memperketat pengawasan lalu-lintas orang yang keluar-masuk Aceh di perbatasan Aceh Tamiang, Aceh Tenggara, Aceh Singkil, dan Kota Subulussalam.

Gugus Tugas Aceh juga mendukung pengawasan yang lebih ketat oleh Gugus Tugas kabupaten/kota.

Di sisi lain, dia meminta Gugus Tugas Covid-19 kabupaten/kota untuk meningkatkan penerapan protokol kesehatan di kalangan masyarakat, di daerahnya masing-masing.

Sementara di tingkat gampong, keuchik dan para pemuda dapat menerapkan konsep “pageu gampong” dalam masa pandemi Covid-19 ini.

Caranya adalah mengawasi ketat setiap tamu yang datang, sesuai kearifan lokal setempat. “Dan dengan cara-cara yang tidak melanggar adat dan sopan-santuan kita selaku orang Aceh,” katanya lagi.

Masyarakat juga diharpakan aktif melapor dan memberikan informasi kepada aparat gampong, petugas surveilans, tenaga kesehatan, dan pamong masyarakat apabila ada keluarga yang positif Covid-19 agar dapat ditangani dengan baik secara medis.

“Apabila semua unsur masyarakat bergerak bersama, bekerja sama dengan tokoh masyarakat, dan pemerintah setempat, insya Allah mata rantai penularan virus corona dapat diputuskan, sehingga tidak jatuh korban berikutnya,” ujar SAG.[]

Previous articleWarga Aceh Besar Terima Rumah Layak Huni dari Pemerintah
Next articleAkhirnya Aceh Bisa Kelola Migas Blok B Aceh Utara

Leave a Reply