Ketika pusat mengapresiasi dan melalui BNPB meminta Pemerintah Aceh berbagi pengalaman dalam penanganan Covid-19 muncul pertanyaan kok bisa Aceh diapresiasi padahal warganya terbilang tungang?

Advertisement

Bukti tungang-pun disebutkan, seperti masih nongkrong di warung kopi dan warga masih memenuhi mesjid-mesjid melaksanakan shalat berjamaah, termasuk tarawih dan shalat id.

Bahkan, sikap tungang ini sempat diseret ke zona politik sebagai wujud pembangkangan terhadap kebijakan Pemerinrah Aceh terkait penegakan protokol penanganan Covid-19.

Argumen itu lalu dipinjam oleh beberapa orang untuk menghantam tim komunikasi Pemerintah Aceh, dan ada juga yang menjadikannya sebagai alasan menawarkan diri untuk menjadi penganti Juru Bicara Pemerintah Aceh.

Padahal, jika kita kembali ke basis pengetahuan, maka jawaban kenapa kasus Covid-19 di Aceh tidak meledak sebagaimana provinsi lain mudah ditemukan jawabannya.

Kunci pengetahuan dasarnya adalah pada pernyataan Pelaksana tugas Gubernur Aceh Nova Iriansyah yang mengajak seluruh jajaran Pemerintah Aceh untuk mengenali musuh yang bernama Covid-19, mengenali kekuatan dan kelemahan diri sendiri, serta mengenali medan pertempuran melawan Covid-19.

Pernyataan Nova yang bersandar pada pengetahuan jenderal, ahli militer dan filosof Tiongkok Sun Tzu itulah yang membantu menghadirkan skema penanganan Covid-19 di Aceh.

Jadi, bagaimana pola serangan Covid-19, apa kekuatan dan kelemahan Pemerintah Aceh, dan bagaiamana lingkungan “perang wabah” di Aceh sudah menjadi pengetahuan yang disadari, termasuk sadar akan sifat tungang yang berlaku di Aceh, yang bahkan pernah disebut oleh Snouck Hurgroje.

Lebih dari sekedar tungang, ada juga sisi teumakotnya. Artinya, meski sekilas terlihat berani, apalagi di media sosial, tapi ada banyak fakta dimana jumlah orang yang “takut” pada bahaya Covid-19 lebih banyak. Menariknya, sikap tungang dan teumakot ini terbalut juga dalam laku ceumarot. Lam tungang na teumakot, bak pih teumakot teutap na ceumarot.

Namun, pengalaman panjang Aceh dalam menghadapi ragam bencana, baik konflik dan bencana alam, menjadi modal sosial bagi warga untuk segera bangkit.

Pada saat tsunami, seorang peneliti Jepang pernah bertanya, apa kunci warga Aceh cepat bangkit? Saya menjawab perspektif orang Aceh terhadap bencana. Bagi orang Aceh, bencana adalah ujian sehingga termotivasi untuk sukses dalam menghadapi ujian bencana. Dan bagi yang meninggal karena bencana juga tidak disesali dengan ratapan panjang sebab ada pahala syahid akhirat.

Nah, di sini menariknya, tim kunci Pemerintah Aceh kali ini terdiri dari orang-orang yang memiliki pengalaman dalam menghadapi bencana, baik bencana konflik maupun bencana alam. Seingat saya, Sekda dan Kadis Kesehatan juga berpengalaman dalam menghadapi wabah saat bertugas di daerah.

Apa menariknya? Tim kali ini, relatif terbebas dari mereka yang dulunya bagian dari bencana konflik, sehingga sifat tenangnya menjadi kunci dalam menjalankan manajemen kebencanaan.

Sikap tenang dalam mengelola perang melawan wabah virus sangat diperlukan khususnya ketika bertemu dengan tekanan-tekanan politik khususnya dalam hal penggunaan anggaran.

Sikap tenang juga diperlukan menghadapi anggota tim yang sangat bersemangat untuk melakukan apa saja guna merespon tekanan dan sikap ingin dipuji karena merasa telah peduli dengan kritik padahal sesungguhnya jika dikaji dengan tenang mengandung jebakan hukum.

Sikap tenang karena kaya pengalaman menghadapi bencana inilah yang kemudian menghasilkan skema penanganan Covid-19 model Aceh yang relatif unik dibanding provinsi lain.

Dengan bekal pengetahuan dasar “kenali musuhmu, kenali dirimu, kenali medan tempurmu” itulah formula gempuran informasi dan gempuran untuk memblokir imported case menjadi transmisi lokal di Aceh.

Sejak awal, ketika Pemerintah Aceh memulangkan mahasiswa dari Wuhan, tindakan perlindungan warga yang diperankan oleh Dinas Sosial langsung diambil alih oleh Dinas Kesehatan untuk melakukan tindakan blokir lewat pemantauan mahasiswa dari Wuhan yang sudah pulang ke Aceh.

Sejak saat itu juga beragam kegiatan sosialisasi dilakukan terkait Covid-19 yang beruntungnya sudah diawali dengan Gerakan BEREH yang langsung diinisiasi oleh Plt Gubernur Aceh dan digerakkan oleh Sekda Aceh.

Di sini, makna “tangan” Tuhan seperti menemukan artinya. Pemerintah seperti sudah digerakkan untuk bersiap-siap menghadapi perang yang kuncinya ada pada pola hidup bersih dan sehat yang kemudian dilengkapi dengan pola jaga jarak.

Kalo mau bersandar pada pengetahuan agama maka sikap syukur dan sabar yang kerap disampaikan Nova dalam setiap kali pidatonya menjadi jawaban mengapa ada banyak pintu terbuka bagi Aceh keluar dari kekacauan karena perang melawan Covid-19.

Sikap tidak jumawa dan takabur kembali diperlihatkan ketika Pusat memuji dan meminta Pemerintah Aceh berbagi pengalaman. “Tidak usah takabur, tugas kita berkerja, jika ada yang keliru diperbaiki, jika ada yang lemah dikuatkan lagi, sebab dalam menghadapi Covid-19 belum ada yang ahlinya, keadaan bisa saja berubah-berubah, jika ada yang puji, juga ada yang caci biarlah tersimpan di dalam timbangan langit. Mari kita terus berkerja secara kolaboratif hingga ke desa dengan bismillah.”

Badai pasti berlalu kata Nova Iriansyah sebagaimana juga disampaikan oleh Yuval Noah Harari yang meramalkan masa depan tatananan dunia yang bisa jadi akan tetap mempertahankan jaga jarak.

Nova dalam arahan terbarunya juga membayangkan dunia yang akan terbebas dari pandemik Covid-19 tapi manusia sangat mungkin akan terus melanjutkan hidup bersama virus, dan beberapa kebiasaan seperti memakai masker, cuci tangan dan jaga jarak dalam silaturahmi sangat mungkin akan menjadi laku hidup di masa akan datang.

Pertanyaan yang belum bisa dijawab adalah apakah Covid-19 akan mendistrupsi era teumeunak dalam laku dunia maya keacehan? Atau, kebiasaan ini sudah menjadi bagian dari style sehingga dak sikula troh u Romawipun, wo u Aceh kembali dengan gaya droe: lagee na laju, nyo hana teumeunak lhe go si uro hana mangat asoe?! Atau, ini sekedar laku segelintir orang saja?!

Leave a Reply