Berdasarkan data Gugus Tugas Covid-19 di Indonesia, kasus terpapar virus masih terus bertambah dari hari ke hari. Upaya pemerintah menekan angka kematian mungkin semakin baik, hal ini bisa dilihat dengan menurunnya jumlah kasus kematian.

Advertisement

Namun, di tengah pandemi seperti ini, ditambah lagi saat umat muslim dunia sedang melaksanakan ibadah puasa Ramadhan, pelaksanaan physical distancing sebagai upaya menekan jumlah kasus terpapar sepertinya sulit diterapkan.

Hal tersebut dapat dilihat dari semakin banyaknya pemilik usaha yang memperbolehkan masyarakat, khususnya masyarakat Aceh, berkumpul di warung-warung tanpa memperhatikan jarak sesuai anjuran pemerintah. Lebih-lebih ketika bulan puasa seperti ini, tidak lama lagi kita akan melihat banyaknya kalangan masyarakat mengadakan buka puasa bersama sebagai salah satu jadwal (wajib) bagi mereka.

Padahal seperti yang kita ketahui, MPU Aceh sudah mengeluarkan fatwa larangan melakukan buka puasa bersama (bukber). Imbauan itu tertuang dalam Tausiah MPU Aceh Nomor 5 Tahun 2020 tentang Tata Cara Pelaksanaan Ibadah Bulan Ramadan yang dikeluarkan Selasa, 21 April 2020 lalu.

Hal tersebut tentunya bertujuan positif, karena kegiatan itu sangat rentan mengingat akan ada banyak orang yang berkumpul di tempat keramaian. Ditambah lagi ketidakmungkinan masyarakat menggunakan masker pada saat bersantap ketika waktu berbuka tiba.

Meskipun jumlah kasus di Aceh masih belum sebanyak provinsi lainnya di Indonesia, hal ini justru menjadi tantangan bagi kita agar semakin patuh terhadap aturan pencegahan covid-19. Dengan diliburkannya seluruh aktivitas perkantoran, kampus, dan sekolahan, maka semakin banyak pula reuni-reuni yang akan kita temui, khususnya dari rekan mahasiswa.

Seharusnya para mahasiswa menjadi salah satu garda terdepan selain petugas medis. Mereka-mereka yang mempunyai intelek tinggi seharusnya dapat memberikan pemahaman kepada lapisan masyarakat agar kiranya menunda dahulu kegiatan dalam melibatkan massa ramai tersebut. Tentunya kita juga berharap saat ini tidak terlalu keras kepala hanya untuk melampiaskan keinginan, pun demikian kepada pemerintah Aceh, dan pemerintah daerah setempat agar kiranya dapat mengawasi pergerakan masyarakat dalam jumlah banyak, sesuai dengan fatwa dan aturan yang telah dikeluarkan.

Mari bersama-sama kita indahkan ulama kita yang mengeluarkan fatwa. Kita taati pemerintah kita. Kita lawan bersama pandemi ini agar cepat berlalu, semoga ditahun depan kita dapat dipertemukan dalam satu lingkar meja atas nama reuni atau sekedar silaturahmi dan apapun itu. Terkhusus kepada rekan mahasiswa mari kita suarakan bukbernya di rumah saja!!! []

*Penulis adalah Ananda Firman salah seorang mahasiswa UIN Ar Raniry Banda Aceh di bawah supervisor Drs. Jamhuri. Tulisan ini dibuat dalam rangka memenuhi tugas kuliah penulis

Previous articlePlt Gubernur Tinjau Posko Banjir di Aceh Besar
Next articleAceh Tamiang Periksa Semua Santri Ponpes Al-Fatah Temboro dan Keluarganya

Leave a Reply