Paska “kehilangan” Irwandi Yusuf muncul persatuan kritik terhadap Nova Iriansyah, pelanjut tugas Gubernur Aceh.

Advertisement

Sejak itu bisa dibilang Nova tidak pernah sepi dari kritik. Bukan hanya Nova, orang-orang yang berada di dalam lingkar dalam Ketua Partai Demokrat itupun juga menjadi sasaran kritik.

Nova sendiri berkali-kali menegaskan posisinya terhadap kritik. Plt Gubernur Aceh itu, menempatkan kritik adalah vitamin.

Menariknhya, sampai saat ini juga tidak ada satu orang dari pengkritik sampai terpaksa minta maaf dihadapan publik karena dipolisikan seperti yang dialami dulu oleh AtjehPost.

Tidak ada juga tindakan kekerasan, bahkan dalam bentuk kekerasan lisan di media sosial atau saluran telepon dalam bentuk caci maki yang kasar sebagaimana dulu kerap terjadi.

Tapi bukan sikap Nova itu yang menarik. Sejatinya memang begitulah seharusnya pemimpin yang menjalankan kekuasaan.

Saya percaya Nova pernah membaca pernyataan Lord Acton (1834-1902). Menurutnya ”… Power tends to corrupt and absolute power corrupts absolutely…”.

Kalimat itu sudah standar, karena paling sering dipakai para pengkritik. Ada kalimat berikutnya yang lebih menarik dari Lord Acton karena terjadi pada pemuja sosok hebat di sini: “Orang besar hampir selalu orang yang buruk….”

Tapi sudahlah, sebab kini yang lebih menarik adalah tren aktivis bermutasi menjadi artisvis. Yang menariknya bukan aktivis tapi artisvis.

Aktivis tetaplah sosok yang beridealisme yang memang dibutuhkan karena yang diperjuangkan dengan keahliannya adalah masyarakat yang lebih baik. Jadi, basis aktivitasnya adalah keahlian dibidangnya plus basis dukungan grassroot.

Sebaliknya artisvis adalah mereka yang dibalik narasi masyarakat lebih baik tersimpan maksud kami yang lebih baik memimpin dan karena itu apapun yang dilakukan oleh pemimpin saat ini dicari-cari ketidakbaikannya.

Sampai di sini langsung terasa beda kerja aktivis dengan artisvis. Aktivis hanya mengkritik dari sisi keahlian atau bidang yang diperjuangkannya, sedangkan artisvis mengomentari semua hal, termasuk di luar keahliannya atau diluar citra organisasinya.

Karena itu, jika aktivis melakukan kerja investigasi mendalam yang kemudian hadir dengan telaah yang mendobrak dan mendorong perubahan, sedangkan artisvis mengandalkan laporan orang dalam dan laporan itu dinaikkan ke media sosial yang disertai kementar yang mengundang perhatian, termasuk data yang masih jadi usulan.

Makin menarik ketika nafsu kekuasaan sesekali menampakkan wujudnya pada sosok artisvis. Kasus “pendudukan” rumah dinas pejabat, yang dipaksa dukung padahal sebelumnya sama sekali tidak didukung.

Jadi, sebagaimana namanya artisvis maka yang menjadi tujuannya, sejatinya bukan masyarakat yang lebih baik melainkan kepopuleran diri. Hal ini bisa dirasakan dari kerapnya dikaitkan dengan pendekatan poling ala musim Pilkada.

Terakhir yang kadang buat geli adalah model keroyokan di media sosial. Orang-orang yang dilebel sebagai people in, siap-siap dikeroyok ramai-ramai dengan maksud akhir bek deuh le di ranah publik dan pada saat yang sama awak yang rajin kritik, tepatnya mengkomentari, apapun dipeuhayeu-hayeu sehingga naluri mengomentari makin agresif. []

Previous articleBayi Gajah Sumatra Mati Tanpa Bekas Luka
Next articleSingkil Terima 3.772 Paket Sembako Imbas Covid-19 dari Pemerintah Aceh

Leave a Reply