Hati adalah tempat bersemayam segala perasaan: suka, duka, cinta, benci, marah, buruk sangka, ingin dipuji dan sebagainya. Perasaan-perasaan ini bergolak dan berubah sangat cepat di dalam hati. Jika hati dikuasai oleh perasaan positif, maka amal yang lahir adalah kebaikan. Namun jika ia dikuasai oleh perasaan negatif, maka amal yang lahir adalah keburukan.

Advertisement

Tentang hal ini Rasulullah Muhammad SAW pernah bersabda, seperti Hadist Riwayat Ahmad, “Sesungguhnya, di dalam diri manusia ada sebuah organ. Jika ia baik, akan baik seluruh amal manusia. Jika ia rusak, akan rusak seluruh amalnya. Ketahuilah, ia adalah hati.”

Hati merupakan sebuah kelenjar yang terbesar di dalam tubuh manusia. Organ ini terletak dalam rongga perut sebelah kanan, tepatnya di bawah diafragma.

Ilmuwan dalam penelitiannya telah menemukan peranan penting hati dalam tubuh manusia. Salah satu peranan hati adalah membentuk sistem kekebalan untuk manusia. Hati juga menjadi organ yang memiliki banyak tugas dalam tubuh manusia. Belum ada satupun organ lain atau organ buatan atau peralatan yang mampu menggantikan semua fungsi hati. Beberapa fungsi hati dapat digantikan dengan proses dialisis hati, akan tetapi teknologi ini masih terus dikembangkan untuk perawatan penderita gagal hati.

Untuk inilah Islam telah mengajarkan ummat untuk terus menjaga hati, terutama dari penyakit-penyakit yang menyertainya. Dr Sayyid Muhammad Nuh dalam buku “Mengobati 7 Penyakit Hati” menyebutkan, penyakit hati yang seringkali hinggap pada pribadi seseorang adalah ujub, terpedaya, takabur, riya, buruk sangka, kikir, dan dendam.

Ada beberapa faktor penyebab munculnya penyakit hati ini, seperti lingkungan keluarga, pergaulan, dan lupa akan jati dirinya sebagai seorang hamba. Selain itu penyakit hati juga disebabkan oleh tidak waspada dan enggan menginstropeksi diri, berlebihan dalam beragama, memperdalam ilmu tanpa mengamalkan, dan cenderung menyukai kehidupan dunia.

Nabi SAW bersabda, “Celakalah hamba dinar, hamba dirham, dan hamba perut. Jika diberi, ia senang; jika tidak diberi, ia benci. Celakalah dan binasalah (hamba-hamba itu). Jika terluka, ia akan membalas. Berbahagialah hamba yang memegang tali kekang kudanya di jalan Allah, rambutnya kusut dan kakinya berdebu. Jika bertugas sebagai penjaga, ia senantiasa berjaga. Jika bertugas memberi minum, ia akan senantiasa memberi minum. Jika meminta izin (istirahat), ia tidak diberi, dan jika ditolong (orang), ia tidak mau menerima.” Tentang hal tersebut disampaikan dalam Hadist Riwayat Al Bukhari dan Ibn Majah.

Penyakit hati tersebut tentunya sangat berdampak pada kehidupan seseorang. Jika ia dilanda riya, misalnya, maka dampak yang akan timbul pada orang itu adalah sulit mendapatkan taufik dan hidayah. Dia juga kerap merasakan kegelisahan yang amat sangat, dan tentunya kehilangan kehormatan dan wibawa.

Orang yang riya juga akan lemah dalam menyempurnakan amal. Allah juga akan membongkar keburukannya di dunia dan di akhirat, dan hancurnya amal baik yang telah dikerjakannya. Tentang hal ini, Allah telah berfirman dalam Quran Surat An Nisa’ [4] ayat 142-143. “Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk salat, mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya’ (dengan salat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali. Mereka dalam keadaan ragu-ragu antaran yang demikian (iman atau kafir): tidak masuk kepada golongan ini (orang-orang beriman) dan tidak (pula) kepada golongan itu (orang-orang kafir). Barang siapa disesatkan Allah, kamu sekali-kali tidak akan mendapatkan jalan (untuk memberi petunjuk) baginya.”

Lalu apakah kita sebagai Muslim akan terus menerus tersandera dalam penyakit hati ini, meskipun gerbang Ramadhan telah dibuka?

Untuk hal ini, Sayyid Muhammad Nuh memiliki beberapa catatan untuk mengobati penyakit hati seperti riya, kikir, dendam, berburuk sangka dan segala penyakit hati tersebut. Pertama adalah selalu mengingat akibat yang ditimbulkan oleh penyakit hati ini.

Obat lainnya adalah menjauhi orang-orang yang memiliki penyakit hati, mengenal Allah dengan sebaik-baiknya, melatih dan mendidik diri, bersikap lembut kepada orang lain, selalu berpegang pada etika Islam, instropeksi diri, selalu mengingat qadha’ dan qadar, dan tentunya memohon perlindungan Allah.[]

Leave a Reply