Trump instruksikan kapal perang AL Amerika Serikat menyerang kapal perang Iran jika memprovokasi di kawasan Teluk | Foto: Kontan/Reuters

Banda Aceh, RUBRIKA.id – Serangan virus corona yang memicu wabah Covid-19 belum benar-benar berakhir. Namun, negara-negara besar seperti Amerika Serikat bersama sekutu dan China serta Iran justru mengancam saling serang.

Advertisement

Beberapa waktu lalu, sebelum dunia dilanda pandemi virus corona, Amerika Serikat melalui pesawat drone mereka membunuh petinggi militer Iran, Jenderal Qasem Soleimani di Irak. Aksi negeri Paman Sam melalui drone MQ-9 Reaper itu membuat petinggi Iran meradang. Bendera perang Iran pun dikibarkan.

Sementara di Laut China Selatan, Amerika Serikat dan Sekutu juga terlibat ketegangan setelah negeri Naga Merah menyerobot beberapa tapal batas negara-negara berdaulat di kawasan, termasuk Indonesia. Ketegangan sempat memuncak. Saling kritik pun terjadi.

Akan tetapi, potensi konflik dalam skala besar itu tiba-tiba meredup setelah virus corona yang kasus pertama terdeteksi di Wuhan, Provinsi Hubei, China, terpublikasi. Sejak itu, pandemi Covid-19 merangsek tapal batas sejumlah negara dari Asia, Eropa, Australia, Afrika hingga Amerika, sebelum “menyabotase” hampir jutaan nyawa manusia di China, negara yang memiliki jumlah penduduk terbesar di dunia.

Iran yang dendam atas ulah militer Amerika Serikat pun sempat terpukul, setelah sejumlah pejabat tinggi negara mereka diserang wabah virus corona.

Sejak kasus pertama terdeteksi di Wuhan hingga Kamis, 23 April 2020 diketahui virus corona telah membunuh 185.441 orang di dunia. Virus yang masih simpang siur asal usulnya itu juga telah menjangkiti 2.658.794 jiwa penduduk dunia. Dari jumlah itu, baru 730.040 orang yang dilaporkan sembuh.

Tim medis di seluruh dunia masih dibuat pusing dengan pandemi tersebut. Mereka terus berpacu dengan waktu untuk mencari antivirus atau vaksin guna menghadapi pneumonia unik itu. Namun, di lain sisi, Donald Trump justru menginstruksikan Angkatan Laut AS untuk menembak setiap kapal Iran.

Pernyataan Presiden Amerika Serikat itu dipicu aksi yang dinilai berbahaya, yang dilakukan oleh 11 kapal Angkatan Laut Pasukan Pengawal Revolusi Islam (IRGCN) Iran di Laut Arab Utara pada 15 April lalu. Menurut pernyataan Komando Sentral AS, ke 11 kapal AL Iran berulangkali memprovokasi kapal perang USS Lewis B. Puller, USS Paul Hamilton, USS Firebolt, USS Sirocco, USCGC Wrangler, dan USCGC Maui.

Pernyataan Trump itu disampaikannya melalui akun twitter, seperti dikutip Reuters. Kicauan Trump itu juga selang beberapa jam setelah Korps Pengawal Revolusi Iran mengklaim telah meluncurkan satelit militer pertama negeri Mullah ke orbit.

Setakat dengan Trump, Kepala Garda Revolusi Iran Hossein Salami pun tak mau kalah. Dia menyebutkan Iran bakal menghancurkan setiap kapal perang Amerika Serikat jika mengancam keamanan negeri Mullah di kawasan Teluk.

Menurutnya keamanan Teluk Persia merupakan bagian dari prioritas strategis Iran.

Kapal perang Amerika Serikat di antara kapal riset Petronas Malaysia dan kapal riset Tiongkok di Laut China Selatan | Foto: Aljazeera/Reuters

Ketegangan dengan Teheran belum berakhir, tetapi kapal perang Amerika Serikat juga dilaporkan masuk di Laut China Selatan. Kapal-kapal perang AS terlihat mendekati kapal riset Haiyang Dizhi 8 milik Tiongkok yang sedang membuntuti kapal Petronas milik Malaysia.

Kedua kapal perang yang dikirim ke Laut China Selatan itu adalah kapal serbu amfibi USS America, USS Barry, dan kapal penjelajah berpeluru kendali USS Bunker Hill.

Sekutu Amerika Serikat di kawasan Pasifik, Australia, juga ikut mengirimkan kapal perang Australia HMAS Parramatta untuk berpatroli di Laut China Selatan.

Washington mengatakan pengiriman kapal ini guna menekan “prilaku intimidasi” China di perairan yang disengketakan. Departemen Luar Negeri AS bahkan mengatakan China mengambil keuntungan dengan memaksa negara tetangga di tengah pandemi virus corona.

Informasi yang dilansir AFP justru menyebutkan China baru saja menamai 80 pulau yang disengketakan di Laut China Selatan pada akhir pekan lalu. China juga dilaporkan telah menciptakan dua distrik baru di Kota Shansa, kota paling selatan di Provinsi Hainan yang mencakup beberapa bagian di Laut China Selatan. Termasuk yang diklaim Filipina adalah Kepulauan Spratly, Scarborough Shoal, dan Fiery Cross Reef.

Apa yang dilakukan China ini mengundang reaksi keras dari Filipina. Manila mengajukan protes diplomatik atas pembentukan kabupaten baru China di wilayah Filipina, yang diklaim sebagai wilayah China itu.

Akankah perang skala besar kembali terjadi setelah atau sebelum pandemi wabah corona berlalu?[] Dari Berbagai Sumber

Previous articleDyah Tinjau Rapid Test di Montasik
Next articleMenyambut Kedatangan Pangdam IM Baru

Leave a Reply