Ada perasaan sedih terselip di hati saat berada di depan pintu bulan ramadhan kali ini.

Advertisement

Betapa tidak, dua sayap milik orang beriman ada yang gagal tumbuh, bahkan ada yang patah di musim Covid-19 ini.

Padahal, dengan dua sayap itu cukup bagi orang beriman melewati dua tikungan kehidupan, yaitu kesulitan juga kesenangan.

Coba saja perhatikan di musim Covid-19 ini. Ada yang tidak sabar di rumah saja, jaga jarak, pakai masker, tidak mudik bahkan ada yang tidak sabar mengikuti pengobatan medis.

Tidak enak memang menjalani masa-masa di rumah saja, juga tidak asyik jika duduk berjarak, kadang lucu melihat orang pakai masker, apalagi jika shalat berjarak. Ragam perasaan aneh akan muncul.

Dan makin tidak enak jika berada di ruangan yang tidak boleh dikunjungi kala menjalani perawatan medis. Makin tidak enak lagi jika orang yang kita cintai meninggal dunia tapi kita tidak bisa melepas kepergian dengan cara-cara yang lazim.

Intinya, serba tidak enak, dan semua mengalami perasaan ini, bukan cuma rakyat tapi juga pemerintah.

Rakyat tidak enak jika dilarang ini dan itu, pemerintah juga tidak enak jika berkerja dalam suasana tidak biasa, apalagi jika terus menerus harus merevisi mengikuti petunjuk yang berubah-ubah seraya menuai protes, kecaman dan gunjingan. Tidak enak!

Tapi, bagi orang beriman menghadapi kesulitan pilihannya adalah sabar. Termasuk para ilmuan, yang juga harus bersabar untuk menemukan obat penyembuh Covid-19.

Penguasa juga perlu bersabar jika ada protes kiri kanan, dan makin harus bersabar meyakinkan agar orang makin banyak ikut protokol penanganan Covid-19.

Sayap lainnya adalah bersyukur. Bagi siapapun, ya rakyat biasa, orang kaya, bahkan penguasa perlu senantiasa bersyukur.

Minimal, bersyukur atas segala sesuatu yang membuat kita tidak mengalami kesusahan atau kesulitan karena Covid-19 sebagaimana yang lain sedang mengalaminya.

Dan makin bersyukur ketika rezeki yang Allah titip kepada kita, kuasa yang Allah izinkan kepada kita, ilmu yang Allah hadirkan kepada kita digunakan untuk membantu dan memudahkan hidup mereka yang terdampak Covid-19.

Rakyat bersyukur atas perhatian, dukungan, dan bantuan yang datang dari berbagai pihak walau tidak seperti negara lain sehingga melengkapi dengan kesabaran untuk tidak saling memprovokasi.

Penguasa juga bersyukur atas kesabaran menghadapi ragam kecaman, caci maki bahkan ragam kemarahan lainnya termasuk yang memiliki motif perebutan kekuasaan.

Maka, beruntunglah mukmin rakyat, mukmin aktivis, mukmin milenial, mukmin pengusaha, mukmin ilmuan, mukmin penguasa dan lainnya karena memiliki dua sayap sama kuatnya, yaitu sabar dan syukur.

Bagi mukmin, cukup Allah sebagai penolong atas usaha kuat merawat sayap kesabaran dan kesyukuran.

Melalui Al Quran diketahui betapa Allah menyertai, mencintai dan memberkati orang bersabar, bahkan dicukupkan pahala tanpa batas. Allah juga memberi pertolongan, selamat dari musuh, termasuk mendapat manfaat pembelajaran, serta janji berhak masuk surga.

Sedangkan bagi yang bersyukur akan mendapatkan ridha Allah, selamat dari azab Allah, ditambah nikmat, dan ragam ganjaran kebaikan lainnya baik berupa rezeki di dunia maupun kebaikan di akhirat.

Betapa ajaibnya hidup orang mukmin bukan? Dan Aceh beruntung karena jumlah orang beriman (Islam) di level mukmin lebih banyak dibandingkan yang masih di level muslim yang selama ini terus mengalami gagal tumbuh dan patah sayap. []

Previous articleAceh Selatan Terima 5.933 Paket Sembako untuk Masyarakat Miskin Imbas Covid-19
Next articleWHO: Pandemi Virus Corona Masih Panjang

Leave a Reply