Kejahatan yang tidak termaafkan adalah menjadikan bencana sebagai momentum pertengkaran politik yang merusak solidaritas.

Advertisement

Dalam status pandemi global virus corona, dalam keadaan bencana nasional dan dalam posisi Aceh tanggap darurat covid-19 saat ini mengedepankan solidaritas haruslah lebih diutamakan.

Pilihan ini punya landasannya. Dalam kaedah fiqih disebutkan jika maslahat dan mafsadat bertemu, maka yang diutamakan adalah yang paling kuat dari keduanya.

Itulah kenapa dalam konteks politik kalangan ahlusunnah wal jamaah lebih memilih mengikuti al-jamaah, tidak memerangi para pemimpin dan menghindari konflik di masa ujian.

Kaedah fiqih ini sinergis dengan kaedah fiqih lainnya yaitu menghilangkan mafsadat lebih diutamakan daripada mengambil manfaat.

Saat ini, bersama memutus matarantai virus corona selayaknya lebih diutamakan daripada mengambil manfaat politik berupa penghancuran karakter orang lain sehingga diklaim gagal dan putuslah kepercayaan rakyat, apalagi jika disertai niat guna meninggikan citra diri sendiri.

Atas dasar kaedah itu, maka siapapun yang menjadikan kebencanaan sebagai momentum pertengkaran politik, apalagi memiliki agenda setting pelemahan solidaritas, melalui trik penghancuran trust terhadap otoritas publik di masa kebencanaan, maka jangan salahkan jika diam-diam dicatat rakyat sebagai aktor penjebol pertahanan covid-19 di Aceh.

Meminjam ulasan Yuval Noah Harari kepercayaan rakyat terhadap otoritas publik menentukan kesuksesan dalam menanggani virus corona. Dua lainnya adalah kepercayaan kepada ilmu pengetahuan dan media.

Jadi, apapun tindakan, yang ujungnya dapat meruntuhkan trust rakyat kepada otoritas publik di masa bencana (ujian), apalagi sampai merusak solidaritas dalam menanggani covid-19 patut dinilai sebagai upaya jahat yang berdampak pada kerja berat memutus mata rantai penyebaran covid-19.

Upaya jahat itu dapat diukur dari menurunnya kepatuhan publik dalam mengikuti protokol penangganan covid-19 di Aceh sehingga pemerintah terpaksa berkerja ekstra keras guna mengimbangi provokasi yang terus hadir.

Beruntungnya, sejak awal Pemerintah Aceh dan mereka yang telah tumbuh urat nadi kemanusiaannya, meletakkan kerja penangganan covid-19 di atas prinsip tiada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah SWT.

Di atas kesadaran itu mereka yang menjalankan kerja penangganan covid-19 terus berikhtiar semampu daya, selebihnya berserah diri memohon pertolongan, kasih sayang dari Allah SWT.

Kita semua adalah insan pembelajar. Dihadapan bencana tsunami, RI dan GAM bersegera mempercepat menuju damai melalui dialog. Dihadapan Covid-19 Gerilyawan BTN Patani mengumumkan gencatan senjata sepihak. Lantas, kita siapa dihadapan bencana ini?

Previous articleGugus Tugas Perbarui Sistem Pencatatan Data Covid-19 di Aceh
Next articlePemerintah Bersama Satgas DPR Bahas Upaya Pencegahan Covid-19 di Aceh

Leave a Reply