Aku tidak takut padamu, Thoun
Tidak seperti selainku
Bagiku, hasilnya adalah dua kebaikan
Jika aku mati, aku beristirahat dari musuhku
Jika aku hidup, berarti telinga dan mataku sudah sembuh

Advertisement

Wabah melahirkan penderitaan dan puisi. Sebait  puisi di atas adalah goresan tangan Umar bin Mudzoffar atau yang populer dengan sebutan Ibnu al-Wardi. Dia menggoreskan pena  pada saat wabah Black Death atau Al-Maut Al-Aswad menziarahi berbagai penjuru dunia, termasuk di Damaskus.

Ibnu al-Wardi mencatat secara detail peristiwa bencana wabah ini. Dia adalah sejarawan, penyair, ahli fiqh.

Tak lama setelah itu, Ibnu al-Wardi tertular. Hanya dalam waktu dua hari setelah itu, ia dikirim ke alam baqa.  Ulama lain yang meninggal akibat wabah ini adalah Qodli Syihab al-Din Ahmad bin Fadlullah al-Ummari. Hakim ini meninggal terjangkit wabah di Damaskus.

Wabah di di era Ibnu al-Wardi adalah wabah Thoun kedua, 700 tahun setelah wabah yang menyerang di era Khalifah Umar bin Khattab. Black Death terjadi di masa Khalifah Turki Utsmani, pada tahun 1371. Wabah ini berlangsung lebih lama yakni 15 tahun.

Dalam kitabnya Risalat al-Naba’ an al-Waba’, Ibnu al-Wardi mencatat  wabah  yang melanda Damaskus menghilangkan nyawa 1.000 orang per hari. Wabah telah menyusutkan jumlah penduduk (aqolla al-katsroh).

Diceritakan, Thoun menyebar dari Palestina sampai Suriah hingga merambah ke pusat kekhalifahan di Turki. Penyakit menular cepat dari rumah ke rumah. Di mana-mana manusia tergeletak penuh luka di tubuh. Ada yang memuncratkan darah dari mulut.

”Di antara ketetapan Allah, Thoun ini berjalan dari rumah ke rumah. Jika seorang mengeluarkan darah dari mulut, maka nyawanya sudah pasti terenggut. Sedang sisanya tinggal menunggu jatah mati, setelah berlalu dua atau tiga hari,” tulisnya.

Dia melukiskan kengerian wabah itu. ”Jika kalian sudah melihat banyak keranda dan para pemanggulnya, niscaya kalian akan menjauh seketika dari mereka.”

Siapapun yang melihat mayat akan ketakutan terjangkit wabah. Dia juga menulis, para pemanggul mayat menjadi berlimpah uang dari ongkos mengusung jenazah.

Diceritakan pula, orang-orang mencoba apa saja untuk pengobatan dan pencegahan secara mandiri maupun dari buku kedokteran. Mereka makan dedaunan kering, makanan bercuka, dan bawang.

Ada juga yang bersedekah tiap hari tiada putus agar terhindar dari wabah. Atau menyambung silaturahim kembali dan berdamai dengan musuhnya. Memerdekakan budak-budaknya. Pedagang menambah kadar timbangan sebagai sedekah.

Sejarawan Ulung

Ibnu Al-Wardi lahir tahun 1292 Masehi atau 691 Hijriah di Ma’arrah Al-Nu’man, Suriah dan wafat tahun 1349 Masehi atau 749 Hijriah di Aleppo. Beliau adalah seorang ahli sejarah, serta penulis dan sastrawan. Salah satu karyanya yang fenomenal adalah Tarikh Ibn Al-Wardi, sebuah buku sejarah dengan pendekatan metodologi penelitian yang up-to-date. Beliau tinggal di wilayah Aleppo, Suriah.

Di sanalah beliau menorehkan tinta emasnya menjadi bagian dari generasi emas Islam pasca masa kebangkitan. Selain dikenal sebagai sejarawan ulung, Ibn Al-Wardi juga dikenal sebagai ahli ilmu geografi dan kartografi. Di antara karyanya dalam bidang geografi adalah Kharidatul Aja’ib wa Faridhatul Gharaib. Buku ini memuat kondisi geografi dunia Arab pada saat itu, termasuk populasi, aneka flora dan fauna, iklim, sistem pemerintahan, dan lain sebagainya. Selain itu, buku ini juga dilengkapi dengan peta berwarna.

Konon, Ibnu Al-Wardi sebelumnya sudah memprediksi akan ada wabah dari Asia Tengah yang akan menghabisi hampir separuh Eropa dan Afrika.

Black Death merupakan wabah yang tergolong pandemi, alias wabah yang penyebarannya cukup merata dan tak bisa diprediksi kemunculannya secara global. Dikabarkan lebih dari sepertiga penduduk Eropa tewas, ditambah sekitar 40% penduduk Mesir, dan negara-negara jalur darat Eropa, yakni negara-negara Asia Barat, tak terkecuali Syiria.[] Sumber: SindoNews

Leave a Reply