Ifdhal Kasim dan Fachry Ali/Repro

Banda Aceh, RUBRIKA.id — Kapolri Jenderal Idham Azis baru saja mengangkat 17 orang penasehat ahli baru yang berasal dari lintas profesi. Dari 17 nama tersebut, dua di antaranya berhubungan dengan Aceh yaitu Ifdhal Kasim dan Fachry Ali.

Advertisement

Berdasarkan Surat Keputusan Kapolri bernomor Kep/117/I/2020 tertanggal Selasa, 21 Januari 2020 diketahui Ifdhal Kasim ditunjuk sebagai penasehat ahli Kapolri bidang HAM. Sementara Fachry Aly didaulat sebagai penasehat ahli Kapolri bidang Sosiologi.

Lantas bagaimana dua orang tersebut berkaitan dengan Aceh?

Ifdhal Kasim merupakan seorang pria kelahiran Tapak Tuan, Aceh Selatan, pada Jumat 26 Januari 1962 lalu. Dia pernah menjabat sebagai Ketua Komnas HAM pada tahun 2007-2012.

Berdasarkan penelusuran penulis diketahui Ifdhal Kasim tercatat sebagai alumnus Fakultas Hukum UII Yogyakarta dan pernah mengenyam pendidikan di International Human Rights Advocacy Montreal, Canada.

Dia juga pernah belajar di International Human Rights Law Columbia University, New York, USA, pada tahun 1997.

Selain pernah menjabat sebagai Ketua Komnas HAM, Ifdhal Kasim juga sempat berkarir sebagai Pengacara di Solo dan bekerja di ELSAM. Di lembaga ELSAM, Ifdhal Kasim juga pernah diampu menjadi Direktur Eksekutif, dan kemudian menjabat sebagai Direktur Reform Institute pada tahun 2005.

Lalu bagaimana dengan Fachry Aly?

Sama seperti Ifdhal Kasim, sosok Fachry Ali juga diketahui lahir di pantai barat selatan Aceh, tepatnya di Susoh Aceh Barat Daya pada 23 November 1954.

Fachry menyelesaikan Master of Arts dalam bidang sejarah (politik) di Departemen of History, Monash University Clayton, Meulborne, Australia pada 1995. Judul tesisnya saat itu adalah “the Revolts of the Nation State Builders: A Comparative Study of the Acehnese Darul Islam and the West Sumatrans PRRI Rebellions, (1953-1962).

Dia pernah menjabat sebagai Direktur pada Lembaga Studi dan Pengembangan Etika Usaha (LPSEU) Indonesia.

Tulisannya banyak ditemukan di berbagai media, baik jurnal nasional maupun internasional. Pengamat politik Lembaga Ilmu Penelitian Indonesia (LIPI) ini bahkan pernah menjadi panelis debat calon Gubernur/Wakil Gubernur Aceh pada Maret 2012 lalu.

Tokoh nasional dan pemerhati pesantren ini juga pernah menjadi narasumber seminar memeriahkan Hari Santri Nasional ke lima yang digelar Dinas Pendidikan Dayah Aceh pada 19 Oktober 2019 lalu.

Pengaruh Fachry Ali bagi Aceh sudah dirasakan sejak dulu. Pemimpin Darul Islam (DI) Tentara Islam Indonesia sekaliber Daud Beureueh pun pernah meminjam istilah “meminjam tangan dari luar” yang dipergunakan oleh Fachry Ali, dalam menjalankan gerakannya di Aceh.[]

Leave a Reply