Terbukanya aib pelengseran Gus Dus sebagaimana dibongkar oleh jurnalis muda Virdika Rizky Utama (VRU) lewat buku “Menjerat Gus Dur” sudah lebih doeloe diungkap oleh jurnalis senior Umar Said yang tutup usia, Jumat 7 Oktober 2011 pukul 22.50 waktu Paris.

Advertisement

Bedanya, VRU membuka aib pelengseran melalui temuan dokumen, dan membeberkan aktor-aktor Golkar, Umar hanya menyebut kekuatan Orde Baru.

Dari Paris Umar Said menulis artikel berjudul “Masalah Pendongkelan Gus Dur dan Kemorosotan Moral.” Umar menilai ada serangan gencar terhadap Gus Dur yang perlu dilawan massal.

Bahkan Umar Said melukiskan kondisi saat itu dimana media cetak tidak mau memuat tulisan atau pendapat yang mendukung Gus Dur. Maka Umar mengajak untuk menggunakan saluran internet.

“Kalau perlu, mengingat berbagai pertimbangan, maka tulisan-tulisan itu bisa juga memakai nama samaran. Di samping itu, seyogyanyalah berbagai kegiatan juga bisa dilancarkan bersama-sama, dalam macam-macam bentuk dan cara,” tulis Umar Said.

Ajakan melawan itu disebut Umar sebagai dukungan terhadap sejumlah gagasan Gus Dur yang mempunyai tujuan luhur dan orientasi politik dan pedoman moral yang benar.

Umar menulis, seperti yang sudah sama-sama kita ketahui (atau kita baca) selama ini, ada golongan-golongan anti-reformasi atau anti-HAM bersama-sama kalangan Islam tertentu yang ingin menjatuhkan Gus Dur dengan berbagai cara, baik secara terang-terangan atau gelap-gelapan.

Perkembangan akhir-akhir ini, tulis Umar Said, mengapungkan berbagai gejala di permukaan air bahwa kegiatan-kegiatan konspirasi yang bersifat subversif sedang dipersekongkolkan oleh sisa-sisa kekuatan Orde Baru, yang masih bercokol di kalangan birokrasi, di kalangan partai politik, di kalangan militer (yang masih aktif maupun yang sudah pensiun), di kalangan pengusaha besar.

Kata Umar, (Sekedar catatan, subversi adalah : gerakan yang mengambil bagian dalam usaha atau rencana menjatuhkan kekuasaan yang sah dengan menggunakan cara di luar undang-undang).

“Agaknya, tidak perlulah kita heran atau terkejut bahwa ada kegiatan-kegiatan subversif untuk menjatuhkan kedudukan Gus Dur,” tulis Umar dari Paris.

Dijelaskan oleh Umar, selama lebih dari 30 tahun, Orde Barunya Suharto dkk telah merupakan “jaman emas” bagi sejumlah besar orang di kalangan militer, birokrasi, pengusaha besar, bahkan juga di kalangan intelektual dan sebagian dari tokoh-tokoh agama.

“Mereka inilah yang selama lebih dari 30 tahun telah diuntungkan oleh sistem politik dan kebiasaan-kebiasaan buruk, yang akibat parahnya bisa kita lihat dengan nyata dalam kehidupan bangsa dan negara kita dewasa ini,” tulis Umar Said dari Paris, 21 April 2000.

Satu tahun kemudian, 23 Juli 2001 KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dilengserkan secara politis oleh parlemen melalui Sidang Istimewa (SI) MPR RI.[]

Leave a Reply