Sudah setinggi apakah spiritualitas ureung Aceh terhadap kebencanaan? Masih sekedar di atas bumi (tubuh), atau sudah mulai menembus langit (jiwa)?

Sebagai ureung (baca: insan) yang mendiami negeri syariah, pertanyaan itu penting untuk kita munculkan di peringatan 15 tahun tsunami Aceh.

Gempa yang diikuti tsunami pada 26 Desember 2004 lalu perlu juga disadari sebagai pusat episentrum paling penting bagi meninggikan spiritualitas ureung Aceh.

Perdamaian yang terjadi paska tsunami, 15 Agustus 2005, adalah bukti paling nyata bahwa spiritualitas ureueng Aceh sudah menembus langit.

Jika spiritualitas masih di level bumi sulit rasanya mencari argumen logis mengapa Aceh harus memilih jalan damai. Konflik nan panjang lagi keras yang telah membangun monumen luka fisik yang perih rasanya baru adil jika dibayar dengan mewujudkan Aceh merdeka.

Namun, jiwa-jiwa yang dilepas oleh gempa dan tsunami dari ikatan kuat ideologi (bumi) membuat Aceh bersedia melakukan lompatan keyakinan yang menghasilkan peta jalan baru menuju cita-cita Aceh.

Spiritualitas level langit yang menghadirkan Aceh Darus Salam usai melewati fase berulang Darul Harb harusnya menjadi gerbang mewujudkan Aceh sebagai Darud Donya, negeri level dunia tempat bertemunya ureung dengan pengetahuan dan akhlakul karimah.

Itu artinya, prilaku koh gateh, kueh, galak-galak kutak sigo, fitnah, adu domba, lantak, takat, hambo, tra’, tran, poh, timbak, gertak yang merupakan nilai-nilai yang mungkin “hidup” di era Darul Harb sudah harus berganti dengan nilai-nilai yang mencerminkan semangat saleum, damai dan selamat – Islam.

Sekedar renungan, Darud Donya masa silam yang disimbolkan dengan istana Kerajaan Aceh Darussalam, yang jejaknya didirikan oleh Meurah Djohan Syah, mendasarkan diri di atas landasan kesadaran nilai-nilai kebenaran, persaudaraan, persamaan, keikhlasan dan cinta kasih.

Akankah level spiritualitas langit yang sudah dicapai paska tsunami kembali turun ke level bumi, tergantung pada penerimaan publik pada model komunikasi di era Darul Harb atau berteguh terus membangun model komunikasi di era Darul Salam guna menuju Aceh Darud Donya berikutnya.

Sudah 15 tahun tsunami berlalu, lalu siapa kita saat ini? Insan darud donya atau masih tergoda untuk menjadi insan darul harb?!

Leave a Reply