Gerakan Bersih, Rapi, Estetis dan Indah yang diakronim dengan BEREH makin meluas.

Advertisement

Entah karena makin massif, kini gerakan yang diinisiasi Plt Gubernur Aceh dan dijalankan oleh Sekda Aceh, mulai ditafsir secara politik.

Sosok Nova Iriansyah dan Taqwallah tiba-tiba ditarik secara prediktif lewat slogan “Nova Ber-Taqwa.”

Slogan bernuansa politik ini bisa jadi muncul dari “serangan” yang ditujukan kepada sepak terjang Taqwallah sebagai Sekda Aceh.

Beragam stigma mulai diramu dan dilempar ke ruang dialog publik, seperti Sekda rasa Sekdes, Sekda offside, Sekda tak paham tupoksi, dan pejabat tak beres.

Stigma yang amat dekat dengan pola pembunuhan karakter itu menutupi substansi dari usaha Plt Gubernur Aceh membudayakan bersih, rapi, indah dan hijau.

Sebuah substansi yang paling dekat dengan pesan Islam yang menganjurkan hidup bersih, senang pada yang indah, dan menjaga lingkungan hidup.

**

Jika kita tarik kebelakang, ketika Gerakan BEREH masih bernama B.R.I Hijau, Nova Iriansyah, melalui video menyatakan kegembiraannya.

Nova senang atas sukses membangun budaya bersih, rapi, indah dan hijau dilingkungan SKPA tanpa harus mengeluarkan biaya, dan dirinya berharap juga bisa diterapkan dilingkungan yang lebih luas.

Sebagai pembantu beliau, Sekda Aceh Taqwallah dengan cekatan mewujudkannya. Di awal pelantikan, Taqwallah sudah melakukan aksi berupa penyerahan SK Kenaikan Pangkat langsung kepada yang berhak bahkan hingga ke daerah.

Semua urusan yang dulunya sulit untuk mengurus SK Kenaikan Pangkat, dipotong habis sehingga berakhir pula perilaku kutip mengutip dalam pengurusan sebagaimana sering dikeluhkan.

Dari aksi ini, Taqwallah ingin berpesan bahwa kekuasaan itu haruslah diperuntukkan untuk melayani, memudahkan urusan orang lain, dan jangan takut memudahkan orang lain, karena Allah akan memudahkan urusan, baik di dunia maupun di akhirat.

Kinerja melayani inilah yang hendak ditumbuhkan dengan menghadirkan lingkungan kerja yang kemudian oleh Plt Gubernur Aceh diberi nama Gerakan BEREH.

Terus terang, dikunjungan pertama, dihampir semua daerah suasana lingkungan kerja belum cukup mendukung hadirnya pelayanan yang prima. Namun, dari hasil kunjungan berulang, lingkungan kerja makin BEREH.

Menariknya, antusiasme daerah, para camat misalnya juga terus meningkat. Melalui group WhatsApp semua kecamatan terus berbagi informasi tentang usaha masing-masing mem-berehkan lingkungan tempat kerja mereka.

Hasilnya, dikunjungan terkini Sekda Aceh yang antusias ditunggu para camat, sekolah SMA, dan Pukesmas, Sekda Aceh lebih fokus mendorong mem-berehkan pelayanan kepada masyarakat.

Apa salah jika Sekda Aceh meminta kepada Kepala Sskolah (SMA) agar memberi perhatian kepada ruang guru agar para guru bisa fokus dan maksimal lagi dalam mengajar para murid?

Apakah keliru jika Sekda Aceh mendorong petugas medis untuk memberi pelayanan maksimal kepada pasien mereka.

Adakah yang tidak bagus jika kepada petugas di kantor kecamatan diajak untuk merapikan dokumen mereka, menjemput warga yang datang dan melayani mereka dengan baik.

Bukankah selama ini suara sipil sangat vokal agar ASN berkinerja, memberi pelayanan, bahkan Presiden RI Jokowi secara khusus menuntut kerja cepat.


Terbukti, dengan hadirnya lingkungan kerja SKPA yang makin BEREH, dan dengan pembekalan yang dilakukan Taqwallah paska diirinya dilantik sebagai Sekda Aceh, RAPBA 2020 disahkan lebih cepat, bahkan ada yang menyebut tercepat di Indonesia sehingga menambah besarnya penerimaan jumlah Dana Intensif Daerah.

Kesuksesan ini pula yang ingin dibagi Sekda Aceh yang bertindak sebagai motivator di pertemuan evaluasi dana desa yang dilaksanakan oleh Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Gampong (DPMG).

Bagi Sekda Aceh, kunci sukses dana desa juga berawal dari sukses pengesahan APBDes sebelum akhir tahun sehingga pencairan dan penyalurannya dapat segara dilakukan bahkan pada bulan Januari.

“Kalau terwujud kan luar biasa, jika belum terwujud, biasa ajaaa,” kata Taqwallah dalam nada humoris disetiap pertemuan.

Hal ini, menurut Sekda hanya bisa terwujud jika Kepala Desa dan Tuha Peut memiliki tekad yang kuat untuk mensukseskannya plus dibantu tenaga pendamping yang memiliki kecakapan “cakologi.”

Untuk itu, Sekda Aceh menjelaskan asbab nuzul kenapa dana desa itu ada, dan apa yang paling utama untuk diprogramkan serta apa ukuran penting yang harus dijadikan pertimbangan sehingga APBDes bisa segera disahkan tanpa perlu banyak dakwa dakwi sebagaimana yang umum terjadi di RAPBK dan RAPBA.

Dan untuk itulah mengapa pertemuan evaluasi dana desa dilakukan. Sebagai pembina dalam hal dana desa Pemerintah Aceh melalui Sekda Aceh membantu Plt Gubernur Aceh yang sudah mengintruksikan agar dana desa juga dapat berkontribusi bagi usaha bersama menurunkan angka kemiskinan dan pengangguran langsung di desa.


Sedihnya, usaha baik itu, yang membuat Sekda keliling Aceh berulangkali, bahkan kini hingga berhari-hari digesek, ditarik, dan dikocok sedemikian rupa. Publik yang awalnya sudah memiliki harapan atas layanan yang makin baik, terseret ke penilaian yang sarat dugaan.

Bayangkan, dengan gampang tanpa rasa sedikitpun, menyebut Taqwallah sedang mengejar serapan anggaran. Logika saja, jika tujuannya kejar serapan kenapa tidak bawa rombongan ke luar negeri saja.

Taqwallah juga diposisikan sebagai pengacau daerah sehingga mendorong Plt Gubernur Aceh untuk menghentikannya agar segera menjadi gubernur difinitif. Sebuah logika yang memprovokasi dan mengadu domba.

Lebih kontras lagi, ketika gerakan Bereh disebut program Bereh yang bertentangan dengan visi – misi Irwandi – Yusuf. Apa tidak lagi membaca rumusan visi yg dikunci dengan “melayani?” Sungguh mata sudah tertutup akibat kemarahan. Kenapa harus marah yang berkelanjutan?

Surat-surat kepala daerah terkait kegiatan Bereh dan Evaluasi Dana Desa pun dibaca dan ditafsir dengan berlebihan bahkan setelah kegiatan sukses dilakukan di daerah yang awalnya meminta agar dilakukan di lain waktu karena lagi fokus dengan kegiatan lain, atau juga karena sedang tidak ada anggaran, dan lainnya.

Bahkan ada kepala daerah yang diadu dengan sekda mereka dengan mengatakan Sekda yang ngotot melakukan kegiatan padahal bupatinya sudah menolak. Aneh, ada Sekda yang berani ngotot dengan bupati.


Suatu pagi, usai dilantik menjadi Sekda, diteras rumahnya, Taqwallah seperti menyatakan ikrar bahwa dirinya tidak memiliki agenda politik, semata ingin mengembalikan citra ASN yang sudah rusak terkait kinerja.

Di lain kesempatan, dihadapan para kepala dinas, Taqwallah pernah mengatakan bahwa bisa jadi jika dirinya meninggal saat ini, tidak banyak yang akan melayatnya karena sikapnya yang tidak bisa memberi atau membantu diluar yang dibenarkan oleh peraturan.

Dia mengaku hanya bisa berharap melalui doa agar diberi kesempatan agar bisa menunaikan tugasnya sebagai pembantu Gubernur dan pembina PNS di wilayah Aceh. “Tak ada lagi yang harus saya kejar, dan semua yang saya lakukan, kredit baiknya sepenuhnya untuk pimpinan, bukan unfuk saya.”

Apakah sikap Taqwallah ini dibaca akan menguntungkan Nova Iriansyah yang disetiap pertemuan selalu diputar video pesannya. Adakah ketakutan sudah sejak dini menyerang sehingga Taqwallah harus segera “dipadamkan” sehingga tidak lagi melakukan gebrakan, dan siapa tahu bisa membuat Plt Gubernur Aceh tidak lagi senang dengan Sekdanya.

Mengapa tiba-tiba serangan berbalik arah ke Taqwallah? Adakah karena kemarahan seseorang, misal karena smsnya tidak dibaca? Waduh, jika ini alasannya publik terkecoh, ternyata narasi berpihak kepada rakyat sebatas orasi politik semata.


Namun begitu, apapun wacana yang berkembang, dan motivasi yang menyertainya, haruslah dihormati sebab dalam demokrasi kebebesan berpendapat dituntut untuk dihormati.

Dalam era berlimpahnya informasi, wajar narasi dan orasi ditujukan untuk berebut perhatian, sebab dengan perhatian itulah ragam transaksi bisa dilangsungkan.

Tentu wacana harus disertai dengan wacana sehingga publik memiliki cukup bahan untuk mencerna. Satu adagium yang perlu diikuti bahwa kebaikan menemukan jalannya sendiri untuk sampai ke hati yang jernih. Jadi, untuk apa takut bereh?! [adv]

Leave a Reply