BEBERAPA waktu ini, sejak 14 Oktober 2019, Google terpaksa harus menaruh perhatian untuk Aceh. Penyebabnya tidak sederhana, google melalui terjemahannya melakukan praktek diskriminatif terhadap Aceh.

Adalah Haekal Afifa yang mengawali protes terhadap Google. Melalui surat yang dikirim ke pihak Google, ia membuka bukti-bukti praktik diskriminatif melalui produk google translate.

Tidak berhenti dengan surat protes, Haekal Afifa melalui Koalisi NGO HAM, juga melayangkan somasi kepada pihak Google, 22 Oktober 2019, dengan tuntutan salah satunya pihak google menyampaikan permohonan maaf.

Praktik diskriminasi google lalu mendapat perhatian Pemerintah Aceh, dan melalui Badan Penghubung Pemerintah Aceh (BPPA), kembali menyampaikan keberatan langsung ke pihak Google yang berkantor di Indonesia.

Pihak Google di Indonesia, melalui Head of Government Affairs & Public Policy, Indonesia di Google, Putri R. Alam disaksikan Kepala BPPA Almuniza Kamal, S.STP, Haekal Afifa dan Zulfikar Muhammad, menyampaikan penyesalan sekaligus permohonan maaf kepada masyarakat Aceh atas kesalahan dan kekeliruan teknologi tranlate millik google dan berjanji akan memperbaikinya.

Terlepas bahwa teknologi terjemahan itu disebut produk dari ELC Google di Amerika Serikat yang jelas Google wajib segera memperbaiki sekaligus “membayar” kesalahan dan kekeliruannya terhadap Aceh.

Sebagaimana diketahui pendiri Google Larry Page dan Sergey Brin berasal dari Universitas Standord yang juga menolak perlakuan diskriminatif. Amerika Serikat sendiri juga terkenal dengan sejarah melawan hingga menghapus diskriminasi, salah satunya apa yang telah dilakukan oleh Martin Luther King.

Lantas, apa yang bisa dilakukan Google untuk menebus kesalahan dan kekeliruannya atas Aceh?

Pertama, tentu saja pihak Google harus membuktikan kesungguhannya untuk memperbaiki google translatenya sehingga hasil terjemahan bebas dari diskriminasi, tidak hanya untuk Aceh tapi juga untuk bahasa-bahasa lain yang ada di dunia.

Kedua, pihak Google penting mempertimbangkan untuk menampilkan Aceh pada produk google doodlenya atau melalui mesin iklan google lainnya sebagai wujud dukungan Google mempromosikan Aceh sekaligus bentuk penebusan atas kekeliruan yang telah terjadi.

Ketiga, pihak Google berkerjasama dengan Forum Komunitas Melayu РAceh dan komunitas lainnya yang ada di Aceh menjalin kerjasama mengunjungi, meliput dan mempublikasi potensi seni, budaya dan wisata Aceh untuk dipublish diberbagai produk milik Google atau diletakkan di landing page Google.

Keempat, pihak Google memfasilitasi Workshop Digital untuk membantu kaum milenial Aceh dan pelaku Industri Kecil Menengah (IKM) Aceh mengenal cara memanfaatkan teknologi untuk meraih kemajuan usaha Mikro, Kecil, dan Menengah yang ada di Aceh.

Kelima, pihak Google juga bisa membantu mewujudkan Desa Digital di Aceh sebagai bagian dari usaha bersama mewujudkan Desa Pintar.

Kelima tawaran itu bisa menjadi pilihan-pilihan yang mungkin dilakukan oleh Google sebagai wujud keseriusan menebus kekeliruan yang sudah terjadi. Aceh, tentu saja tidak berharap meminta yang berlebihan, namun sesuatu yang tanpa kelirupun masih terbuka kemungkinan untuk diwujudkan. []

Leave a Reply