Sri Wahyuni, yang akrab disapa Ayu, hanya perempuan biasa, sama seperti perempuan lain.

Advertisement

Hanya saja, ketika Ayu menyematkan kain upuh ulen ulen ke tubuhnya, lalu berdiri dan menari sendiri di Bundaran Simpang Lima, Kamis 22 Agustus 2019, Ayu bukan lagi sekedar perempuan biasa.

Dirinya saat itu menjadi sosok yang mewakili kosmologi bumi gayo. Wajar, sebelum aksi tunggal menyuarakan soalan lingkungan kekinian Gayo, Ayu kerap dirasuki syair Uten karya Sali Gobal.

“Mongot kayu si tareng ranteng gêrê ne karet
Sayang…..
Bêramôr ri rata têbeng i Daleng rênse ni bêdên
Utên…utên…utên…”

“Jatuh cabang rapuh pergi dilarikan badai, terhempas rubuh di bumi yang rapuh dan patah, berangkat bersama, runtuhpun bersama, terkejut yang rapuh duri tak bertepi.”

Bumi Gayo, seperti tergambar dari upuh ulen-ulen, adalah kesadaran, bahwa bumi adalah kosmologi yang digambarkan sebagai seorang ibu, termasuk kandungan yang ada di dalam perut bumi Gayo, semisal emas dan lain sebagainya. Begitu juga hutan adalah pakaian sekaligus kain untuk menutupi kehormatan bagi seorang ibu.

Ayu sedih ketika membayangkan kematian seorang ibu (bumi). Bayangan ini, makin hadir kala mendengar syair Mother Earth:

Mother Earth is dying
Ibu Bumi sedang sekarat
There are people crying
Ada orang yang menangis
Where will it lead us?
Dimana itu akan membawa kita?
Where will we go?
Kemana kita akan pergi
Nobody knows
Tidak ada yang tahu
Why let her die?
Mengapa membiarkan dia mati?
Why choose to destroy her?
Mengapa memilih untuk menghancurkannya?

Bagi mereka yang memiliki kesadaran hidup dari kasih sayang seorang ibu, bumi Gayo, tentu saja tidak tega jika pakaian kehormatan ibunya tercabik, apalagi sampai dicabik oleh orang lain. Konon lagi, jika kandungan ibunya dipaksa lahir, meski dengan teknologi aborsi yang menjamin keselamatan sekalipun. Bagi anak-anak Gayo, ibu mereka (bumi gayo) paham akan cara dan waktu ibu menyuapi (memberi kehidupan) anak-anaknya.

Sebagai perempuan yang akrab dengan seni, Ayu membayangkan perempuan Indian, yang disuarakan oleh Juan Leonardo Santillia Rojas atau Leo Rojas, yang dengan aksi seninya membawa manusia memasuki gerbang masa lalunya berupa nature spirit.

Melalui aksi tunggal di tanggal yang memiliki makna yang seimbang, yaitu tanggal 22, Ayu juga ingin memantik kesadaran anak-anak Gayo untuk memilih menjaga kehormatan bumi Gayo karena itu adalah ibu kehidupan bagi semua orang Gayo. Bahkan, dunia pun mengakui bahwa hutan Gayo adalah nafas kehidupan dunia.

Bagi Ayu, menolak perusahaan tambang beroperasi di Gayo bukan bermakna menolak berkah yang diberikan oleh bumi, melainkan Ayu percaya, bumi Gayo memiliki mekanisme yang lebih mengasihi untuk melahirkan kandungannya untuk menjadi berkah bagi “anak-anaknya” di bumi Gayo.

Aksi tunggal Ayu dengan setting kulturalnya juga merefleksikan alam Gayo yang mengajarkan mekanisme bertahan, ketimbang menyerang, apalagi lari dari masalah. Ayu, dengan aksi tunggalnya, sama sekali tidak menyerang siapa-siapa, melainkan hanya mengajak seluruh urang Gayo untuk merapatkan barisan, sehingga mereka yang awalnya memiliki niat untuk mengekpoitasi bumi Gayo mengurungkan niatnya, dan berbalik menjadi pihak yang mendukung model kosmologi alam gayo berbagi anugerah kepada penduduknya, yaitu melalui semesta memberi.

Leave a Reply