Pemerintah Aceh kembali menggelar hajatan kebudayaan Saman dalam kegiatan bertajuk Festival Saman Tahun 2019 yang langsung digelar di negeri asal Saman, Gayo Lues, 18 – 21 Agustus 2019.

Hajatan kebudayaan ini terbilang penting bukan hanya karena Saman telah diakui dunia, tapi juga karena Plt Gubernur Aceh, Nova Iriansyah mendeklarasi kebudayaan dan pariwisata sebagai pintu masuk lain menuju Aceh Hebat.

Rubrika tertarik menggali lebih jauh dengan mewancarai Kadis Kebudayaan dan Pariwisata, Jamaluddin, yang dipuji karena sukses menggelar acara pembukaan Festival Saman 2019 di Gayo Lues.

Apakah Festival Saman 2019 sekedar untuk melestarikan Saman?
Kita baru saja merayakan 74 tahun kemerdekaan Indonesia, juga 14 tahun Aceh Damai. Dua momentum penting ini adalah buah dari pohon kebudayaan kita sendiri yang darinya bangsa ini memiliki spirit perjuangan yang berorientasi hidup merdeka dalam damai.

Apa kaitannya dengan spirit perjuangan yang bisa dipetik untuk membangun, khususnya jika dilihat dari Saman?
Menariknya, spirit perjuangan dalam ruang kesadaran kebudayaan kita di Aceh ini, bil khusus di bumi Gayo ini, lebih spesial lagi di Gayo Lues ini, bila mengacu pada Saman, berakar pada pandangan kebersamaan, yang mengharuskan pemimpin dengan yang dipimpin, seirama dalam gerak, agar terbangun pola pertahanan yang kuat. Pilihan atas pola bertahan ini diambil karena yang paling dekat kepada perdamaian. Dengan begitu, tidak ada yang harus lari saat berjuang melawan musuh (masa lalu), dan karena itu juga seharusnya tetap bersama, dalam membangun negeri, apapun bentuk tantangan yang hadir (masa kini dan masa depan).

Apa Anda ingin menyebut ini semua tentang ruh kebudayaan Aceh?
Ruh kesadaran itulah yang hendak kita bangkitkan kembali melalui semua hajatan seni budaya, termasuk menghadirkan Saman dalam event Festival Saman Tahun 2019. Jadi, festival ini bukan sekedar menghadirkan tontonan hiburan kelas dunia bersebab Saman sudah diakui UNESCO sebagai warisan budaya tak benda milik dunia tahun 2011 lalu, apalagi hanya karena sudah tercatat dalam rekor MURI tahun 2015. Sebagai seni, sebagai tontonan, hiburan, yang perlu dilestarikan, tentu saja Pemerintah akan terus mendukung, lebih dari itu kebudayaan harus pula kembali membangkitkan etos kerja membangun kita semua.

Jadi, apa juga maksud lainnya itu?
Lewat event kebudayaan yang digelar saban tahun ini, kita ingin kesadaran kebudayaan kembali mampu membangun etos kerja yang lebih baik, bila perlu secepat dan sekompak gerak Saman. Dalam kontek kekinian, kecepatan yang kompak itu, lebih mungkin terjadi dengan menghadirkan ragam inovasi yang didukung teknologi.

Apa hubungannya dengan perspektif pembangunan yang kerap diangkat oleh Plt Gubernur Aceh?
Itu artinya, pada saat yang sama pembangunan Aceh juga mensyaratkan gerak kebersamaan semua pihak, kolaboratif istilah Plt Gibernur Aceh. Beliau kerap mengingatkan, tidak bisa lagi hanya satu pihak yang berkerja, yaitu pemerintah saja, bahkan tidak cukup lagi hanya tiga pihak (triple helix) saja yaiu pemerintah, pengusaha dan kalangan akademik, melainkan sudah harus dengan pendekatan quadruple helix, yang juga ikut melibatkan publik atau citizen bahkan media.

Apa untungnya Festival Saman ini bagi Gayo Lues?
Sebagai event kebudayaan, Festival Saman Tahun 2019 yang disebut Saman pulang kampung ini menunjukkan bahwa Saman telah membawa simpatisan baru yang akan melihat negeri seribu bukit ini dari berbagai sudut pandang. Kedatangan peserta dan undangan serta pengunjung ini tentunya akan membawa sebuah pengalaman estetis yang akan tersampaikan saat mereka kembali. Tinggal bagaimana kita memanfaatkan situasi ini dan menawarkan berbagai daya tarik yang akan berdampak domino pada kunjungan wisatawan ke depannya. [adv]

Leave a Reply