Proses tidak pernah mengkhianati hasil.

Advertisement

Itulah salah satu kesimpulan yang kami dapatkan setelah 45 menit kami bercengkerama dengan Muhammad Saleh, atau yg lebih terkenal dengan Apa Leh, Sabtu, 3/8, di sebuah sudut warung sate Keudee Geurugok.

Apa Leh adalah owner sejumlah warung sate terkenal di Kedai Heurugok, Kecamatan Gandapura, Kabupaten Bireun itu.

Seperti biasanya, saat melakukan perjalanan rute Banda Aceh – Langsa, kami selalu sigap merencanakan tempat berhenti untuk melawan lapar. Seperti kenderaan yang kami tumpangi selalu memastikan SPBU yang berkualitas untuk mengisi bahan bakar, maka sepanjang jalan kami juga selalu memastikan tempat makan yang menyenangkan untuk mengisi perut dengan standar sederhana : enak, banyak dan murah.

Warung Sate Apa Leh Geurugok merupakan salah satu destinasi kuliner yang relatif sering kami singgahi karena lumayan menggugah selera.

Hari ini persinggahan di Warung Sate Apa Leh mendapatkan nuansa lain dari biasanya.

Kami disambut dan dilayani langsung oleh Apa Leh, sang pemilik warung sate itu. Sambil mengunyah renyah sate hangat Apa Leh kami pun bercerita panjang lebar dengan Apa Leh.

Ketika itu cerita Apa Leh, usaha nya meneruskan usaha jual sate antra hidup dan mati. Seiring fajar ketika setiap hari dia harus keluar mencari bahan baku sate, dia selalu tawakkal kepada Allah karena dia tidak yakin apakah di hari itu dia bisa kembali dengan selamat ke rumahnya, atau hanya jenazah yang akan dihantar oleh orang lain.

Dengan mimik berat Apa Leh menceritakan suka dukanya menyelamatkan usaha sate nya itu ketika masa masa Aceh dilanda konflik.

Tapi Apa Leh dengan kereta tua dengan sepasang raga dibelakangnya harus tetap keluar kalau tidak usaha satenya harus tutup.

Kala itu setiap keluar pagi Apa Leh selalu diperiksa aparat dengan sejumlah interograsi. Kadang pertanyaan aparat itu ringan-ringan, kadang aparat melontar pertanyaan berat dengan wajah bengis dan bayonet di tangan. Yang pasti setiap pagi badan Apa Leh berkeringat panas dingin di tengah udara pagi yang menggigil.

Sambil tersenyum hambar, Apa Leh juga menceritakan kisah yang sekarang dirasanya lucu. Aparat ketika itu kalau tidak menyetop Apa Leh karena telah dikenal mereka, mereka lantas melepas sejumlah anjing yang terlihat buas untuk mengejar dan menggonggong Apa Leh yang ketika itu kala hari masih remang remang Apa Leh lewat depan pos Aparat di Gandapura.

Apa Leh memulai usaha hatee nya sekitar tahun 1998.

Usaha satee pertama Apa Leh itu di samping Mesjid Geurukok, sebelah kanan halan Medan – Banda Aceh. Lalu ketika sewa toko habis, pada tahun 2008 Apa Leh melakukan invansi usahanya yang lebih besar lagi dengan cara menyewa sederetan toko di sebelah kiri jalan Medan – Banda Aceh itu, seperti yang kita saksikan saat ini.

Prinsip Apa Leh dalam menjalankan usaha sate nya itu adalah menjaga kualitas, baik kualitas makanan maupun kualitas layanan.

Ketika dulu material daging masih dibelinya di pasar, maka daging yang dipilijnya adalah daging berkualitas. Potongan satenya juga lumayan besar, dengan komposisi rempah bumbu dan kuah yang sangat padu.

Mulanya tidak banyak yang tahu kualitas sate Apa Leh Geurugok dari beberapa tempat lainnya di seputaran Bireun.

Seperti ungkapan bahwa rasa tidak pernah berbohong, pelan pelan cita rasa dan kualitas sate Apa Leh pun menjadi viral dari mulut. Semula pada 2008 Apa Leh hanya membuka satu pintu, saat ini nyaris semua pintu toko kedai Geurugok di sebelah kiri jalan Medan – Banda Aceh itu telah diduduki rak Sate Apa Leh.

Dulu, kalau orang mau makan sate akan singgah di Matang Geulumpang Dua, sekarang banyak pihak memilih melewati Matang dan singgah di Sate Apa Leh Geurugok.

Hari hari ini warung Sate Matang nyaris sepi, tapi di saat bersamàn Warung Sate Apa Leh Geurugok selalu membludak.

Kasus dominasi Sate Apa Leh terhadap Sate Matang lebih dikarenakan penjual sate matang jadi korban Mitos Sate Matang Enak. Tapi disaat bersamàan ditengah keyakinan akan mitos itu penjual sate matang mengabaikan kualitas cita rasa.

Setiap singgah di warung Sate Matang selapu hadirkan kekecewaan. Kualitas dagingnya yang sangay menyiksa saat kita mengunyah plus kualitas bumbu dan kuah sate semakin hari semakin jauh dari cita rasa enak.

Kami bahkan beberapa kali pernah menemukan pejual sate matang mendaur ulang tusuk sate yang sudah dipakai pelanggan. Tusuk tusuk sate di piring pelanggan dikumpul kembali kemudian dicuci dan dipakai kembali. Sejak melihat kejadian itu kami tidak mau singgah lagi di tempat ini.

Kondisi pedagang sate matang yang abai menjaga kualitas itu disadari benar sebagai peluang usaha oleh Apa Leh.

Apa Leh selama ini sekuat tenaga menjaga kualitas citarasa satenya itu. Nyaris seharian dia mengawasi langsung proses pembuatan sate dari hulu sampai hilir.

“Nye hana ta awasi keudroe teuh hana keumah, leubeh got ta top,” kata Apa Leh kepada kami.

Tadi sambil makan sate kami sempat meyakinkan Apa Leh bahwa kunci masa depan satee nya itu adalah pada konsistensi dia menjaga kualitas. Sekarang sate Apa Leh sudah mulai memitos, tapi Apa Leh tidak boleh jadi korban mitos lalu dia abai menjaga kualitas dan citarasa sate nya itu.

Kepada kami Apa Leh menceritakan bahwa dia merupakan alumni sate matang yang saat ini sdh meredup itu.

Dulu sekitar tahun 1988 Apa Leh adalah pejerja pada warung Sate Toke Suh Matang. Dari Toke Suh lah, laki laki kelahiran Paloh Mane Geurugok ini, Apa Leh belajar meracik sate enak sekaligus belajar ilmu menjual sate.

“Saya dulu belasan tahun bejerja dan belajar sama Toke Suh,” ungkap Apa Leh kepada kami.

Sekarang Apa Leh begitu menikmati hasil usahanya itu. Benar, proses yg dilalui Apa Leh tidak khianati hasil yg diperolehnya hati ini.

Apa Leh bercerita banyak pihak dari sejumlah wilayah yang merayunya utk mrmbuka cabang Sate Apa Leh. Tapi dia tetap kinsisten menolak dengan halus. Karena menurutnyan semakin bayak titik yang dibuka akan menyebabkan kontrol kualutas akan melemah yang akhirnyanakan mengakibatkan pelanggang sate Apa Leh akan menghukum Apa Leh dengan meninggalkannya.

Apa leh mengku rizki nya yang lumayan di dapat dari keuntangan sate nya itu tidak semuanya dimanfaatkan untuk kesenangan personal. Saat ini Apa Leh setiap hari mengeluarkan Ro. 500.000 untuk keperluan pengajian yang ada di wilayah nyan itu.

Ternyata Apa Leh suka bersedekah, seperti kepada kami tadi dore. Insya Allah usahanya semakin berkah. []

Previous articlePenduduk Miskin Aceh Kembali Turun, Perlukah Penyesuaian RPJM Aceh?
Next articleNilam Aceh Idola Dunia (Laporan Belanda)
Pengasuh Kuliner Usamah (KUaH)

Leave a Reply