Puluhan massa aksi yang tergabung dalam Front Rakyat Indonesia untuk West Papua (FRI-WP) serta Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) menggelar aksi di depan Kedubes Belanda, Kuningan, Jakarta, Senin (1/7/2019).

Advertisement

Kabarnya, aksi yang sama juga digelar di Surabaya, Bandung, dan Ambon. Di Surabaya, demo puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) di Jalan Kalasan, Pacar Keling, Tambaksari berakhir dengan damai. Aksi bubar sekitar pukul 11.30 WIB setelah enam mahasiswa yang sempat diamankan petugas dilepas kembali.

Bagaimana perkembangan gerak OPM saat ini, kaitannya dengan Otonomi Khusus. Apakah Otsus tidak bermanfaat dalam memadamkan gerakan perjuangan kemerdekaan, atau ada sesuatu yang mesti dipandang dengan cara berbeda sehingga menghadirkan pendekatan baru? RUBRIKA.id meminta pandangan Stepi Anriani, peneliti dan pemerhati Papua, dosen Sekolah Tinggi Intelijen Negara (STIN) dan pengajar pada Sekolah Manajemen Analisa Intelijen (SMAI).

Menurut Anda, apakah antisipasi setiap 1 Juli kaitannya dengan Papua sudah dilakukan dengan baik?
Sudah, 1 juli yang diperingati sebagai ulang tahun kelompok Organisasi Papua Merdeka (OPM) Marvic (Markas Victoria) telah diantisipasi dengan baik oleh jajaran intelijen baik di daerah maupun pusat juga stakeholder keamanan.

Apa komentar Anda soal West Papua Army yang dideklarasi di perbatasan Vanimo dan disebut sebagai gabungan tentara pembebasan Papua?
Analisis saya, Benny Wenda melakukan hal tersebut sekedar untuk menunjukkan eksistensinya. Jika dikaji dengan seksama, maka kita tidak perlu khawatir berlebihan.

Apa yang Anda pikirkan, kaitannya dengan Otsus?
Ada pertanyaan mendasar memang, mengapa setelah 18 tahun Otsus diberlakukan dan besaran dana yang dikeluarkan hampir 80 triliun masih ada “Gerakan Papua Merdeka. Saya menyebut gerakan tidak membahas per kelompok maupun landasan kriminal atau separatis.

Apa sih temuan Anda soal Otsus di Papua, apa terbilang gagal?
Nah, hasil penelitian yang beberapa waktu lalu saya temukan, ternyata Otsus Papua cukup berhasil. Cukup menjadi daya ungkit, terbukti dengan penambahan bangunan bidang kesehatan dan pendidikan, peningkatan pesatnya kemajuan Indeks Pembangunan Manusia Papua dan Papua Barat dibandingkan sebelumnya. Juga terjadinya penurunan angka kemiskinan, belum lagi political will Presiden Joko Widodo yang sangat baik untuk memperhatikan Papua baik dari sisi emosional dan fisik/infrastruktur.

Kalau begitu, mengapa masih ada gerakan papua merdeka, Apa bacaan Anda?
Ternyata Otsus dapat mengeliminir gerakan Papua Merdeka atau simpatisan Papua Merdeka yang modusnya “merasa adanya ketimpangan ekonomi” namun tidak mereduksi gerakan yang modusnya “ideologi, dendam atau politik”.

Apa Anda berpikir sebuah ramuan baru, perpanjangan Otsus?
Oleh karena itu tentunya diperlukan ramuan lain. Apakah Otsus akan diperpanjang dengan pembaharuan diberbagai hal, boleh boleh saja. Atau akan ada perubahan kebijakan lainnya. Hal yang juga perlu kita sama-sama benahi adalah aparat keamanan tidak bisa bergerak sendirian, TNI dan Polri sebagai ujung tombak sudah bersinergi dengan sangat baik. Sehingga stakeholder lain harus juga bersama mengisi kekosongan.

Apa contohnya, kaitannya dengan Wenda?
Dalam rangka mengkounter deklarasi Benny Wenda kita tidak perlu marah, kerana cipta kondisi dalam negeri yang baik. Ia tidak bisa melalukan deklarasi di wilayah NKRI, sehingga dikandang ia sudah kalah. Namun, kita harus support dan dukung kementrian luar negeri, bantu diplomasi dengan berbagai konten dan ide-ide brilian.

Apa yang bisa dilakukan kaitannya dengan persepsi dunia. Ada usulan aksi?
Negara Internasional perlu tahu betapa kita mencintai Papua. Bisa kita dorong 100 youtuber misalnya mempublikasikan keberhasilan pembangunan pemerintah di Papua dari berbagai penjuru. Tentu saja youtuber-youtuber yang mempunyai banyak pengikut seperti Atta Halilintar atau Ria Ricis yg hampir 20jt pengikutnya.

Apa lagi, yang sifatnya dapat melibatkan generasi digital?
Pengadaan video pendek atau testimoni dari turis maupun tetangga sebelah PNG, juga sangat diperlukan. Ini agar masyarakat internasional tahu betapa jauhnya kemajuan Papua ( hanya 1 prov di Indonesia) dibandingkan negara2 lain di Pasifik.

Apa pihak TNI dan Polri perlu dukungan dari “pasukan tekno”?
Jangan biarkan TNI dan Polri bermain sendirian. Generasi muda pecinta IT, adik-adikku para hacker dan cracker, silahkan bantu Kominfo atau BSSN dalam meniadakan berita-berita propaganda dari kelompok separatis.

Apa komen Anda terhadap pernyataan McGibbon dalam sebuah jurnal, yang menyatakan Otonomi khusus yang dijalankan oleh pemerintahan daerah yang lemah dapat memicu gerakan separatis.?
Jika merujuk pada pernyataan tersebut, terdapat hubungan mengenai implementasi Otsus di daerah dengan gerakan separatis. Sehingga pemerintah daerah sangat memainkan hal penting dan perlu diingat bahwa Otonomi Khusus Papua dalam kajian awal dibentuknya berbeda dengan konsep federalisme. Artinya tidak ada unsur “state” di sana, dengan demikian pemerintah daerah adalah kepanjangan dari pemerintah pusat dan harus selalu bersinergi.

Leave a Reply