Banda Aceh, RUBRIKA. Id — UIN Ar Raniry menjadi salah satu dari tiga UIN yang berada di level bawah dalam kemampuan mahasiswanya membaca dan menulis Alquran. Dua UIN lain adalah UIN Mataran dan Uian Sultan Syarif Kasim Pekanbaru.

Direktur Perguruan Tinggi Islam Direktorat Jenderal Pendidikan Islam, Arskal Salim yang menjadi narasumber mengaku terkejut dengan tiga UIN yang berada di level bawah dalam kemampuan mahasiswany membaca dan menulis Alquran.

“Saya surprise melihat hasil penelitian di tiga UIN yang berada pada level bawah. Ketiga UIN ini merupakan wilayah yang kuat dengan basis keislamannya,” ujar Arskal.

Meski begitu, Kabid Kajian dan Pengembangan Alquran Abdul Aziz Sidqi melalui keterangan resmi mengatakan secara umum kemampuan membaca dan menulis Alquran mahasiswa UIN di 14 kampus rata-rata bagus atau berkisar pada angka 3.19 untuk membaca dan 3.20 untuk menulis. 

Sebagaimana diketahui, Kementerian Agama (Kemenag) melalui Lajnah Pentashihan Mushaf Alquran (LPMQ) Badan Litbang dan Diklat merilis hasil Penelitian Kemampuan Baca Tulis Alquran (BTQ) mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) di Indonesia tahun 2019.

Seminar hasil penelitian BTQ 2019 diikuti puluhan peserta yang berasal dari berbagi lembaga penelitian perguruan tinggi keagamaan negeri dan berlangsung di Hotel Santika, TMII, Jakarta, Rabu (06/11/2019).

Responden penelitian ini adalah mahasiswa semester tiga sampai lima. Mereka adalah mahasiswa yang terdampak langsung dari Keputusan Dirjen Pendis Nomor 102 tahun 2019 tentang Standar Keagamaan Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam Lulusan PTKI, bahwa baca tulis Alquran menjadi salah satu kualifikasi yang harus dimiliki.

UIN Malang Juara

Kabid Kajian dan Pengembangan Alquran Abdul Aziz Sidqi dalam paparan hasil penelitian mengatakan, dari 14 UIN yang menjadi locus penelitian, hasilnya Indeks kemampuan baca Alquran tertinggi diraih UIN Maulana Malik Ibrahim Malang dengan skor 3,94 (rentang 1 – 5). Sedang indeks terendah adalah UIN Sultan Syarif Kasim Pekanbaru dengan skor 1.86.

Untuk kemampuan tulis Alquran, indeks tertinggi adalah mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta (3.80). Lagi-lagi UIN Sultan Syarif Kasim Pekanbaru menempati indeks terendah (1.90).

Penelitian ex post facto merupakan penelitian yang bertujuan menemukan penyebab yang memungkinkan perubahan perilaku, gejala atau fenomena yang disebabkan oleh suatu peristiwa, perilaku atau hal-hal yang menyebabkan perubahan pada variable bebas yang secara keseluruhan sudah terjadi.

Adapun 14 UIN yang menjadi locus penelitian ini, sesuai urutan indeks hasil penelitian, yaitu: UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, UIN Walisongo Semarang, UIN Sarif Hidatullah Jakarta, UIN Alauddin Makassar, UIN Antasari Banjarmasin, UIN Sumatera Utara, UIN Imam Bonjol Padang, UIN Sunan Ampel Surabaya, UIN Raden Fatah Palembang, UIN Sunan Gunung Djati Bandung, UIN Mataram Lombok, UIN Ar Raniry Banda Aceh dan UIN Sultan Syarif Kasim Pekanbaru.

“Indeks ini menunjukan bahwa kemampuan membaca dan menulis tidak jauh berbeda meskipun ditemukan mahasiswa yang sama sekali tidak bisa baca Alquran berkisar 0.4 persen dan tidak bisa menulis 0.6 persen,” ujar Abdul Aziz.

“Rata-rata mahasiswa UIN sudah mampu mengenal huruf hijaiyah, izhar, ghunnah, qalqalah dan sebagainya,” sambungnya.

Abdul Aziz menjelaskan, penelitian terkait kemampuan BTQ di kalangan mahasiswa kali pertama dilakukan pada 2002. Penelitian kedua ini dilatarbelakangi semakin banyaknya IAIN yang bertransformasi menjadi UIN semakin banyak. Sehingga, jurusan umum atau non keagamaan juga bertambah.

Tujuan penelitian lanjut Abdul Aziz untuk mengetahui tingkat kemampuan baca tulis Alquran mahasiswa UIN di Indonesia termasuk mengetahui faktor apa saja yang mempengaruhi tingkat kemampuan baca tulis Alquran. Selain itu, penelitian juga memotret gambaran program peningkatan kemampuan baca tulis Alquran yang diselenggarakan oleh UIN.

Rekomendasi yang diharapkan dari hasil peneltian ini, salah satunya adalah bahwa persoalan BTQ di UIN pada dasarnya berakar dari persoalan pendidikan dasar Alquran di jenjang pendidikan sebelumnya yang belum berhasil dan tuntas.

“Kementerian Agama perlu melakukan standarisasi pendidikan Alquran di semua jenjang pendidikan agar persoalan tersebut dapat diselesaikan secara lebih efektif. Kemenag melalui Direktorat PD Potren juga diharapkan dapat mensinergikan kelembagaan TPA/TKA dengan penyelenggaraan BTQ di pendididkan formal,” ujar Abdul Aziz.

Menurut Arskal Kemenag memberikan apresiasi kepada Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an (LPMQ) yang sudah melakuan penelitian yang dinilai sangat penting ini. Penelitian BTQ menjadi penting untuk mengidentifikasi kebutuhan dan kelemahan yang dialami oleh mahasiswai perguruan tinggi kegamaan negeri.

Arskal mengharapkan ke depan Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an (LPMQ) Badan Litbang dan Diklat Kemenag juga melakukan penelitian dan perbandingan dengan perguruan tinggi negeri seperti UI, ITB, UGM dan perguruan tinggi lainnya, untuk mengetahui sejauh mana level kemampaun BTQ mahasiswanya.

“Dari penelitian ini terlihat jelas sekali aspek-aspek yang memang diperlukan dalam meningkatkan kemampuan baca tulis Alquran di kalangan mahasiswa UIN. Saya harap penelitian ini bisa dikembangkan lebih jauh lagi kepada mahasiswa prodi umum di perguruan tinggi negeri. Apakah kemampuan baca tulis Alquran di perguruan tinggi umum itu seimbang dengan di UIN atau jauh lebih rendah,” tandas Arskal.

Ada tiga model pembinaan dan peningkatan BTQ mahasiswa UIN yang dihasilkan dari hasil penelitian Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an yakni optimalisasi Ma’had Aly, kolaborasi dengan lembaga lain dan swakelola dengan mengambil tenaga pengajar dari dosen yang ditunjuk. Betulkah faktanya?!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here