“Misschien interesseert het U te vernemen, dat naar aanleiding van een verleden maand gehouden onderhoud met den vice-consul van Amerika te Medan, in Amerika een verslag zal verschijnen over ‘t belang der patchouly-cultuur in Atjeh”

Mungkin anda tertarik pada kenyataan bahwa, setelah pertemuan dibulan lalu dengan wakil konsul Amerika di Medan, sebuah laporan akan muncul di Amerika tentang pentingnya budidaya nilam di Aceh.

Itulah sebagian poin laporan Belanda di Aceh pada bulan April 1925 ke Batavia (Jakarta) melalui telegram untuk diteruskan ke Amsterdam, Belanda.

Maksud dari laporan tersebut bahwa Belanda dengan sangat serius ingin memonopoli nilam di kawasan jajahannya untuk diekspor ke Eropa dan Amerika.

Praktek ekspor nilam telah dimulai pada akhir abad ke-19 atau puncaknya awal abad ke-20, dan berakhir sekitar tahun 1930an. Demikian laporan “Atjeh Patchouli-Olie” (Minyak Nilam Aceh) yang diungkap oleh Ir. W. Spoon. (1932)

Ekspor Nilam Tapak Tuan ke Malaya dan Singapura, 1924

Pada awalnya, minyak nilam yang diproduksi di Aceh hanya dikirim ke Singapura dan sebagian ke Penang (Malaysia), di mana minyak nilam Aceh itu akan dicampur dan disuling dengan minyak daun lainnya di pabrik-pabrik penyulingan di Singapura, kemudian baru diekspor ke negara-negara lain dengan label “minyak Singapura” bukan nama “minyak Aceh”.

Sedangkan minyak nilam dari yang berasal dari Jawa Barat dan Timur, tidak dipasarkan melalui Singapura, mereka punya jalur khusus dan memiliki cara pemasaran tersendiri; sebagian masuk ke Jepang, mayoritas ke Eropa, yaitu Perancis, Jerman dan Belanda.

Memang, kualitasnya agak berbeda dari minyak nilam Aceh, baunya tidak terlalu intensif; perbedaan-perbedaan itu mungkin terkait dengan kondisi pertumbuhan; tanah dan iklim tampaknya secara alami lebih menguntungkan bagi tanaman di Aceh daripada di Jawa. Demikian laporan peneliti Belanda.

Selain kualitas, jumlah ekspor juga lebih banyak dari Aceh daripada ekspor Jawa, misalnya tahun 1924, Aceh mengekspor 1.097 ton, dan Jawa hanya 5 ton. di tahun 1931 Aceh mengekspor 3.468 Kg, dan Jawa 1.865 Kg (netto).

Oleh karena melihat keuntungan yang besar, masih dalam laporan tersebut, untuk pertama kalinya Belanda mengirim langsung nilam Aceh dari pelabuhan Aceh ke Belanda (110 Kg/netto) dan ke Amerika Utara (38 Kg/netto).

Belanda cukup serius membangun pabrik-pabrik pengolahan dan penyulingan nilam di Aceh, khususnya Tapak Tuan (Aceh Selatan) sejak tahun 1921, kemudian juga dibangun pabrik di dekat Kutaraja Banda Aceh, satu pabrik lagi di Meulaboh. Tahun berikutnya Belanda membangun 3 pabrik lagi di Tapak Tuan.

Faktanya bahwa selama tahun 1931 dan awal tahun 1932, Departemen Museum Perdagangan Belanda menerima sampel minyak nilam yang diimpor dari Aceh untuk diuji laboratorium. Namun, walau hasilnya telah diperoleh, tetapi ekspor nilam Aceh tersebut terhenti akibat dampak dari Perang Dunia II di Eropa sejak awal tahun 1939. []

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here