Hp saya berdering ketika baru saja memasuki Raja Muda Resto, di Pulo Kemiri, Kutacane. Dari ujung sana terdengar: “Bang, aku sopir ke Blang, aku jemput jam 12 ya”. Waduh, tadi malam katanya habis dhuhur. Saya lirik ‘Hublot’ saya. 11.10. insyaAllah masih cukup waktu untuk makan siang bersama guru-guru TK yang canden ini.

Hari ini, hari terakhir kami visitasi akreditasi 5 lembaga PAUD dan Pendidikan Non Formal di Aceh Tenggara. Sebagai ‘tanda mata’, mereka mengajak kami menikmati makanan khas Aceh Tenggara. Nggak enak juga nolaknya. Tadi baru aja kami kembalikan amplop 0,5 Jeti dari salah satu TK Pembina disana. 4 gurunya dari SD, semua PNS, udah sertifikasi. 1 pensiun 5 bulan lagi, 1 udah stroke dan 1 darah manis. 1 masih ok, tapi belum PD. Ada 1 berlatar PAUD, tapi belum sertifikasi. Akhirnya jadilah TK ini ‘TK rasa SD’.

Aceh Tenggara selain kaya alam Leusernya, juga kaya kulinernya. Ada: bebek masak telu (tiga macam rempah), ayam kelapa Gongseng, ikan pepes yg bisa dimakan daun2nya, cah ikan mas asam Sunti, dan ini yg saya suka Jus Pelangi (rasa mangga, sirsak, pepaya dan alpokat). Belum lagi kanan kiri jalan buah-buahan yg lagi minta dipetik: durian, manggis, rambutan dan langsat.

Tadi waktu visitasi, ada salah satu anak TK kasih langsat. Cute banget. Langsung dihadiahi beberapa kue selai nenas. Eh, terus ada yang datang bawa durian. Memang kalau udah ‘magnet rezeki’ begitu. Allah akan terus mencurahkan rezeki melalui tangan hamba-hambaNya. Misal tadi pagi, yang ngak ada hubungannya dengan akreditasi, nelpon nitip sekarung rambutan hasil kebunnya. Padahal sehari sebelumnya udah bilang, ngak sempat ke ke kebunnya. Sore kemaren, juda ada yang nitip oleh-oleh tikar dan gula Cane untuk orang rumah. Thanks God. Rezeki emang enggak kemana.

Ketika sedang berwudhuk siap-siap, selesai makan, jemputan pun datang. Tapi nampak kosong. Apa harus balek ke terminal lagi? Rupanya hanya kami penumpangnya. Setelah berpamitan dan menitipkan sedikit tausiah untuk ibu-ibu TK dan tips untuk sopir yang telah menemani kami seminggu di sana. Kami menyarankan di antaranya: bagi guru yang bukan latar Paud/TK agar mengikuti Diklat dasar Paud, jangan samakan lingkungan belajar TK dan SD. Anak-anak TK perlu lebih banyak perhatian dan kasih sayang, dengan cara-cara dan bahasa yang santun. Karena, merekalah yang akan menjadi generasi Aceh Emas nantinya.

Baru 15 menit jalan, azan bergema. Kamipun berhenti shalat di sebuah menasah, halaman arah kiblatnya telah ditelan banjir. Kalau banjir lagi, insyaAllah Menasah ini akan ikut terbawa. Selepas qashar dhuhur dan jamak ashar, kamipun beranjak ke Gayo Lues, Negeri Seribu Bukit.

Kringg… tiba-tiba hp berdering. “Bang, ini dari Argalus Travel, kita ke Blangkejeren, Abang dimana?”. Waduh, apa salah jemput? Saya komunikasikan ke sopir. Rupanya benar. sopir yang jemput kami adalah suruhan dari Robi Karya Gayo Lues, untuk ke Banda. Sayapun minta maaf ke loket, kami fikir Abang ini dari loket di Cane. Rupanya dia dari Gayo Lues. Tapi Abang ini bilang, dia juga orang Argalus. Cuma tadi bilangnya kami berangkat jam 2, tapi dia jemput lebih cepat. Setelah Abang sopir jelaskan ke pihak loket, akhirnya hana masalah. Saya berdoa, semoga ada penumpang lain yang naik ke L300 ini. Jangan rugi kali Abang kita ini. Alhamdulillah terkabul. Ada sekitar 5 penumpang yang naik di jalan dan satu paket untuk Mentari Tour di Banda Aceh.

Kiri kanan jalan Kutacane, buah duren dkk (langsat, rambutan dan manggis) begitu menggoda. Namun, begitu mendekati Blangkejeren, aroma minyak Atsiri disuling di pinggir jalan harum mewangi. Hamparan serai wanginya hampir-hampir mencapai puncak. Satu-satu terlihat mulai ada yang menanam Nilam.

Dari paman Google, saya jadi tahu bahwa minyak Atsiri tidak hanya berasal dari Nilam. Setidaknya ada sekitar 40 jenis tanaman yang mengeluarkan minyak Atsiri. Diantaranya Nilam, serei wangi dan cengkeh. Baru saya sadar, berapa pintar orang yang memberi nama ‘Atsiri’ untuk Pusat Risetnya. Baru 1 jenis tanaman sumber Atsiri saja (Nilam) sudah heboh sampai ke Perancis. Konon lagi kalau ke 40 sumber Atsiri bisa dibudidayakan. Akan sangat luar biasa.

Tapi saya penasaran, kenapa petani Gayo Lues lebih memilih Serai Wangi. Seingat saya, 1998, waktu tinggal 7 bulan di Kuta Panjang, 30 menit dari Blang Keujeren. Nilam dan Serei Wangi hampir berimbang. Agak ke dalam, kadang diselingi tanaman tembakau dan ‘serinen’nya, ganja. Kala itu, 21 tahun lalu, ada cerita lucu, dimana ada seorang aparat negara terpaksa membantu mertuanya memanen ‘tembakau wangi’ demi menyelamatkan cintanya.

Petani tembakau Blang biasanya menanam ganja untuk menjaga tembakau dari serangan burung. Bila ada ganja, burung lebih tertarik kepada ganja, sehingga daun tembakau selamat. Kabar baiknya lagi, ganja bisa dipanen duluan dari tembakau. Di Gayo Lues dan Kutacane, penangkapan ganja sering terjadi. Bukan satu dua hal, hitungannya satu dua mobil. Itu biasanya terjadi, kalau ada kasus ‘nggak pas bagi’ antara ‘multi-stakeholders’.

Sesampai di Terminal Gayo, sambil menunggu mobil ke Banda, saya bicara dengan abang sopir tadi. Sebut saja namanya Kasem, maaf bukan ‘Bunga’. Rupanya si Abang ini keren juga. Serei wanginya sedang panen. Lumayan banyak, 2 hektar. Saya tanya, kenapa dia nggak di gunung memanen? Kenapa justru bawa L300? Tanya kenapa. Apakah L300 lebih menjanjikan daripada serei wangi?

Rupanya, dia bilang, L300 ini untuk membiayai kebun serei wanginya. Dia cari modal, abangnya yang jaga kebun. Tiap hari panen mereka perlu modal 300-400 ribu untuk ongkos pekerja, 100 ribu per hari per pekerja. Harga ini jauh lebih baik dibandingkan upah para wanita Cane yg bekerja di kebun-kebun orang Batak di Karo yang hanya 70.000 per hari. Miris. Seakan alam Aceh tidak sanggup lagi menghidupi para petani jagung.

Ada 2-3 pekerja tiap hari. Itupun susah mencarinya sekarang. Karena hampir semua kebun sedang panen. Setelah panen pertama di 5 bulan pertama, seterusnya tiap 2-3 bulan serei wangi harus dipanen. Sekali musim panen bisa 14-15 hari. Berarti satu musim panen, Bang Kasem harus menyediakan modal sedikitnya 300.000 x 15 hari, sekitar 4,5 juta. Terus, berapa keuntungannya?

Tiap 8-10 rumpun mereka bisa dapat 1 kilo minyak. Namun per satu drum suling, paling dapat 7-8 ons minyak. Sekilo minyak sekarang harganya sekitar 230 ribu rupiah. Kalau kualitas dan harga lagi bagus bisa dapat 250-280 ribu per kilo.

Mari kita hitung, serei wangi biasa ditanam per 1 meter. 1 hektar adalah 100 x 100 meter. Berarti ada 10.000 rumpun per hektar. 2 hektar 20.000 rumpun. Bila efisiensi paling rendah 50%, maka ada 1.000 kilo minyak dihasilkan tiap kali panen. Seribu dikali 230ribu, sama dengan 230.000.000 per 2-3 bulan. Masih kotor. Bila hitungan ini benar. insyaAllah Gayo Lues tidak lama lagi akan keluar dari garis kemiskinan. Ine-ine dari Cane tidak harus ke Karo lagi.

Terakhir, saya bertanya, kenapa tidak mengusahakan Nilam? Kan harganya lebih bagus dari serei wangi. Bisa 500-600 ribu sekilo, Bang Kasem bilang: Nilam agak ribet dan agak susah merawatnya. So, perlu sosialisasi dan bimbingan teknis untuk para petani bila kita ingin memajukan Nilam.

Asumsi sementara, tanah Aceh adalah lahan subur untuk menghasilkan lebih banyak minyak Atsiri. Dan minyak Atsiri adalah salah satu cara mengeluarkan penduduk negeri ini dari kemiskinan. Hanya, perlu riset mendalam untuk mengetahui, lokasi mana cocok untuk tanaman apa? Misal: tanah di barat selatan Aceh cocok untuk nilam, bagian tengah cocok untuk serei wangi, Pulau Aceh (3 pulau) dan Pulau Simeulue (64 pulau) serta cocok untuk cengkeh. Bagaimana dengan Pulau Banyak (64 pulau)?

Bagaimana juga dengan banyak lahan tidur di daerah lain. Sebut saja: tanah Pak Prabowo di bekas PT. Tusam Hutan Lestari Bob Hasan di Aceh Tengah atau PT. Indonusa Indrapuri di Aceh Besar atau bekas PT. EMM yang tersebar di sekian banyak kabupaten. Saya bermimpi, ke depan rasanya kita harus mengimpor pekerja dari Malaysia dan China untuk bekerja di ladang-ladang Atsiri kita. InsyaAllah.

(Otw Blang Keujeren – Banda Aceh, akhir Juli 2019).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here