Sebagai bocah yang mengenal sepakbola di medio 90-an, sudah pasti saya mengidolakan salah satu klub asal negeri Pizza. Dan hati Aulia kecil tertambat pada klub asal kota Turin yakni Juventus FC.

Sebagai Juventini mustahil rasanya tidak bermimpi untuk menyaksikan laga Juventus langsung dari tribun stadion. Namun bagi bocah Asia Tenggara dengan taraf ekonomi sedang seperti aku rasanya terbang ke Turin itu suatu hal yang sangat mustahil.

Ternyata di bulan Agustus tahun 2014 mimpi itu menghampiri Juventini Indonesia. Sialnya bagi aku gagal berangkat karena deadline sidang Sarjana berdekatan sama event Juve Tour di Jakarta.

Mulai sejak itu siap akhir musim aku selalu menaruh asa, semoga Juventus akan tour lagi ke Indonesia, atau jika tidak ke Indonesia Juventus mau mengadakan Juve Tour ke Malaysia ataupun Singapore.

Akhirnya, kesabaran selama 5 tahun membuahkan hasil, karena ICC 2019 di Singapore juga masuk dalam agenda Juve Tour Asia. Tanpa tunggu lama aku bersama beberapa rekan dari Juventus Club Indonesia Chapter Aceh ikutan membeli tiket early bird.

Setelah membeli tiket pertandingan aku baru mulai berpikir keras bagaimana caranya untuk bisa ngumpulin uang untuk beli tiket pesawat, dan akomodasi lainnya selama di Singapore.

Alhamdulillah akhirnya tiket pesawat terbeli di bulan Ramadhan, dan di awal Lebaran aku bisa melunasi biaya penginapan. Namun hati belum merasa tenang karena aku belum punya uang saku untuk makan dan transportasi di sana.

Akhirnya 3 hari menjelang berangkat aku cuma mengantongi bekal 200 SGD. Dengan modal pas-pasan akhirnya ku beranikan ikut rombangan Juventini lainnya. Dari Aceh kami berangkat 6 orang, aku Sendiri Aulia, Fadhil, Zachlul, Bang Iqbal beserta Fathan (anaknya bang Iqbal dan Kak Ika (istrinya bang Iqbal).

Pagi itu Jumat, pukul 8.20 WIB Air Asia dengan nomor penerbangan AK422 ikut membawa kami dari bandara SIM Banda Aceh ke bandara KLIA Kuala Lumpur. Tepat pukul 11.00 waktu Malaysia kami mendarat di Kuala Lumpur. Di sini kami berpisah, Bang Iqbal, Fathan dan Kak Ika melanjutkan perjalanan ke Johor Bahru karena hotel low budget di Singapore sudah tidak tersedia. Aku, Fadhil, dan Zachul tetap melanjutkan perjalanan ke Singapore.

Sore pukul 17.15 Waktu Malaysia kami bertiga melanjutkan perjalanan menuju Singapore, tetap dengan pesawat ber tagline “everyone can fly”. Kami tiba di Singapore pukul 18.15. Nah, disinilah petualangan sesungguhnya di mulai.

Sabtu pagi, menurut informasi dari teman-teman Juventini Indonesia Miralem Pjanic dan Mattia Di Sciglio ikutan dalam event jumpa fans di Weston Corp yang berdekatan dengan Kalang National Stadium Singapore. Karena modal di kantong sangat minim transportasi MRT dan jalan kaki tetap jadi andalan selama di Singapore.

Setelah naik MRT dan jalan kaki lebih dari 1 kilo, aku dan mbak Eva akhirnya sampai juga di Weston Corp, tujuan kami sama, berburu foto selfie dan tanda tangan Pjanic. Karena kurang sabar aku nyerah dan bergerak ke SwissOtel tempat skuad Bianconeri menginap, Mbak Eva tetap bersikeras menunggu.

Sesampai di SwissOtel aku kembali menelan kekecewaan, incaran berswafoto dan tanda tangan masih nihil, apesnya lagi pas nonton training season di Bishan Stadium aku kembali bertemu mbak Eva dan dengan girangnya dia berkata aku tadi bisa Selfie bareng Di Sciglio. Lepas nonton training season malam itu kami langsung balik ke Hotel.

Minggu pagi, aku dan teman-teman Juventini lainnya bergerak menuju Home United FC Youth Football Academy, pagi itu ada Fun Football bagi member Juventini resmi asal Asia, dan acara ini turut dihadiri oleh David Trezeguet dan Edgar David. Pagi ini memang hoki bagiku, walaupun gagal mendapat tanda tangan kedua legend Juventus, aku berhasil berselfie bareng David Trezeguet.

Jam di tangan masih menunjukkan pukul 13.00, karena open gate di Stadion masih terlalu lama, aku bergerak ke Bugis untuk mencari souvernir murah meriah.

Berkat jeli cari tempat makan murah dan andalkan transportasi MRT, uang saku yang aku taksir tidak cukup malah berlebih di luar ekspektasi, mumpung ini hari terakhir aku di Singapore, jiwa berburu merchandise Juve pun kembali tak terkontrol.

Tanpa pikir panjang, aku langsung menuju Peninsula Plaza, katanya sih disini untuk merchandise sepakbola tergolong murah. Setelah berkeliling mencari toko yang berjualan jersey dan atribut sepakbola, benar saja harga disini jauh lebih murah dibandingkan di Indonesia.

Aku memutuskan untuk membeli 1 syall dan 2 jersey punya edisi beberapa musim yang lalu, alasannya simpel sih, sepertinya produk non olahraga lainnya, setiap barang yang bukan edisi terbaru pasti diskonnya besar. Hahaha

Setelah puas berhasil mendapatkan jersey dan syall murah, aku langsung berjalan kaki menuju stasiun MRT, waktu sudah pukul 16.30, artinya 30 menit lagi tribun stadion sudah di buka untuk kedua supporter.

Tepat pukul 17.00 aku sudah tiba di Kalang National Stadium Singapore, ini moment puncak yang ditunggu-tunggu oleh seluruh Juventini, yaitu Laga Juventus FC vs Tottenham Hotspur.

Setelah menunggu beberapa saat di dalam stadion, akhirnya wasit meniup juga pluit tanda pertandingan dimulai, sungguh atmosfer menonton di stadion sangat jauh berbeda dibandingkan dengan menonton di layar televisi.

Harus diakui, aku merinding saat awal berjalannya pertandingan, dan rasanya waktu berjalan begitu cepat saat itu. 30 menit laga berjalan, Erik Lamela membuat seluruh Juventini tercengang dengan gol indahnya. Half time Juventus 0 vs 1 Tottenham.

Hanya 11 menit berjalan babak kedua Gonzalo Higuain menyamakan skor untuk Juventus, momen ini membuat seluruh Juventini semakin semangat dan liar untuk ngechant.

Bagi ultras garis keras, chant yang merupakan nyanyian penyemangat buat pemain Juventus dan tidak sedikit pula nyanyian intimidasi bagi pemain lawan merupakan suatu keharusan di setiap laga Juventus bertanding.

Goooalll, teriakan juventini bergemuruh dari tribun stadion, Cristiano Ronaldo ikut mencatat namanya di papan skor pada menit 60, hanya berselang 4 menit dari gol Higuain, sementara Juventus unggul 2-1 atas Tottenham.

Entah merasa puas atau takut mega bintang Portugal cidera, akhirnya Maurizio Sarri menarik keluar CR7 pada menit 63 dan posisinya digantikan oleh Matheus Pereira. Sialnya bagi Juventus selang satu menit Ronaldo di tarik keluar Tottenham mampu menyamakan kedudukan melalui kaki Lucas Moura di menit 64 .

Ketika semua orang berfikir laga akan berakhir imbang 2-2, Lucas Moura berhasil merebut bola dari kaki Adrien Rabiot, bola langsung di umpan ke kaki Harry kane, melihat posisi Wojciech Szczesny sang kiper Juventus maju terlalu jauh, Kane langsung menendang bola lambung terarah ke jaring gawang Juventus. Full Time Juventus FC kalah dengan skor 2-3 atas Tottenham Hotspur.

Sungguh kekalahan yang tidak menyesakkan, selain ini hanya pramusim, melihat aksi Juventino langsung dari tribun stadion dan bisa berswafoto bareng David Trezeguet, sang legenda hidup Juventus merupakan suatu anugerah yang tidak ternilai bagi Juventini Indonesia sepertiku.

Fino Alla Fine Forza Juventus!!!

Catatan Muhammad Aulia Putra, Ketua JCI Chapter Aceh

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here