Banyak orang tak sadar, Dayah telah menjadi komoditi politik elit dalam meloloskan kepentingan segelintir orang. Baik Partai politik tertentu, maupun personal. Dayah telah menjadi peluru untuk menembak target tertentu dalam politik anggaran. Ya, kita tidak sadar itu. Disini, saya melihat PDA ingin memainkan peran agar Teungku Dayah tidak terjebak dalam persoalan hukum nantinya khususnya jeratan politik anggaran. Lagi-lagi banyak yang tidak sadar sikap itu.

Beberapa Teungku Dayah yang saya amati di Beranda saya (tidak semuanya), dengan surban yang meusalöp dan Kupiyah ngöep merepet bahkan mencaci maki PDA dan Plt. Gubernur Aceh terkait dana hibah. Bahkan, tanpa malu mereka menelanjangi dirinya sendiri dihadapan kita. Ada yang kupiyah hitam, merah, putih bahkan memasang photo profil dengan para ulama Aceh. Tapi, mulutnya berbusa menyindir sesuatu. Menurut saya, mereka adalah Teungku Non Tipe.

PDA dicaci maki karena dianggap tidak membela kepentingan politik mereka. Informasi yang saya dapat, ada oknum dayah tertentu yang sudah “menyetor” kepada oknum Legislatif yang telah menitipkan aspirasinya. Ada oknum dayah sekaligus menjadi kader Partai Nasional yang mengelola anggaran aspirasi 2019 sebesar Rp. 21.000.000.000. Dan beberapa informasi lainnya yang membuat saya miris. Karena ternyata, hujatan dan cacian mereka tidak bedanya dengan mulut busuk politisi.

Gilanya, Plt. Gubernur Aceh diserang habis-habisan dengan isu ini. Plt. dianggap tidak memihak kepada kaum dayah. Sebagai orang dayah, saya sadar harus berdiri dimana. Mencoba melihat fakta dengan objektif, menganalisa persoalan dengan cermat. Sebagai orang dayah, saya berpikir tidak mungkin Plt. akan bersikap “se-ekstrim” itu kepada orang Dayah. Saya percaya, Plt. tau dayah adalah elemen esensial dalam strata sosial Aceh.

Ternyata, setelah saya analisa dan cermati. Ada elemen Pemerintah Aceh yang ingin menggunting dalam lipatan. Sadar atau tidak pada resikonya, elemen ini telah memasang “perangkap” pada Plt. Terlanjur muncul ke publik, lantas mencari kambing hitam. Dalam hal ini, Dinas Pendidikan Dayah menjadi korbannya.

Padahal, banyak dinas lain yang menampung dana hibah baik untuk Mesjid, Meunasah, dan infrastruktur lainnya. Tapi, ini tidak menjadi sorotan. Karena hanya dayah yang mampu dijadikan senjata untuk menembak sekaligus dengan dua atau tiga korban.

Maka, terimakasih Plt. Gubernur Aceh dan Partai Daerah Aceh. Sekalipun saya tidak kenal dengan Plt. Gubernur dan tidak menjadi kader dalam Partai Daerah Aceh. Setidaknya, sikap Plt. dan PDA telah menyelamatkan Kaum Dayah dari jeratan hukum dalam Politik Anggaran yang dimainkan oleh oknum tertentu.

Saya berharap, beberapa oknum “Teungku Non Tipe” yang sedang peulikak sarông peudeung atau memainkan Leusông göp mampu menyadari, agar kita tidak terjebak dalam irama gendang orang lain.

Karena, saya tidak bisa membayangkan jika ada elit Dayah Aceh yang harus masuk Penjara karena Dana Hibah. Setidaknya, kalian telah menyelamatkan marwah mereka. Jika dulu, Teungku Bantaqiah menjadi korban dalam konflik Aceh saya tidak ingin Dayah menjadi korban dalam konflik anggaran. Terimakasih!

Al Fatihah Untuk Teungku Bantaqiah [23 Juli 1999 – 23 Juli 2019]

Haekal Afifa | Sentral Aktivis Dayah untuk Rakyat Aceh

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here