Saya kira kita semua sepakat bahwa hiburan adalah salah satu tradisi penting dalam peradaban manusia. Seperti halnya ritual yang menjadi manifestasi ketaatan, hiburan adalah pemantik kegembiraan. Ketaatan dan kegembiraan senantiasa bertaut dan melekat. Manusia-manusia taat yang bergembira tentu lebih berguna daripada manusia-manusia taat yang suram, apalagi jika dibanding dengan manusia-manusia bebal yang murung. Sebab itulah tidak ada pertentangan antara ketaatan dan kegembiraan; keduanya menyatu dan berpadu dalam satu irama.

Tuhan sebagai Pencipta dan Penguasa alam raya menyediakan surga kepada hamba-hambaNya yang gembira, bukan kepada hamba yang murung. Tuhan juga mengutus para nabi untuk membawa kabar gembira. Adapun ancaman Tuhan hanya untuk mereka yang enggan bergembira dan menolak ajaran Tuhan demi mempertahankan keangkuhannya yang suram.

Manusia juga diberi anugerah untuk bisa tertawa, berbeda dengan temannya dari kalangan binatang. Jika pun tertawa dalam dunia binatang itu ada, maka hanya sebatas ekspresi yang tak termaknai. Adapun manusia tentunya memiliki alasan-alasan logis untuk tertawa. Benar bahwa kita dituntut untuk banyak menangis, namun hal tersebut tidak secara otomatis menegasikan eksistensi tawa dalam kehidupan sebagai wujud kegembiraan.

Beberapa paragraf di atas saya kira cukup untuk sekadar memberikan narasi tawaran bahwa ketaatan dan kegembiraan saling berpelukan. Kegembiraan sama sekali tidak akan mengurangi ketaatan. Dan yang lebih penting ketaatan tidak akan terkotori oleh kegembiraan.

Lantas apa kaitan ketaatan, kegembiraan dan bioskop di Aceh? Seperti telah disinggung di awal bahwa idealnya ritual (ketaatan) dan hiburan (kegembiraan) dapat berjalan seiring, di mana yang satu tidak dijadikan alat untuk menekan yang lain. Dengan redaksi yang lebih lunak; hendaknya formalisasi syariat Islam yang telah berlangsung di Aceh tidak dijadikan senjata untuk menghantam segala bentuk hiburan dengan tanpa ampun. Menghantam hiburan dengan membabi-buta akan berdampak pada hilangnya kegembiraan.

Bioskop merupakan salah satu medium hiburan yang dapat menghadirkan kegembiraan bagi masyarakat Aceh yang “mayoritasnya” adalah insan-insan yang taat. Bukan tidak mungkin dengan dibukanya kembali bioskop akan mampu meminimalisasi “berkembang-biaknya” wajah-wajah muram nan sangar yang saat ini sedang menjamur di Aceh. Dengan demikian kita akan bisa menyaksikan pemandangan baru – wajah-wajah masyarakat Aceh yang taat dan gembira.

Diakui atau pun tidak sebagian masyarakat kita memang gemar menonton. Kita dapat menyaksikan sendiri bagaimana sebagian masyarakat (termasuk kita sendiri) yang terpana menonton kebakaran dan kemudian mengabadikannya melalui camera ponsel, tanpa pernah berpikir untuk berusaha memadamkan api. Demikian pula ketika terjadi kecelakaan – di mana korban telah patah-pate, tapi kita justru membuat tayangan live di facebook.

Fakta ini setidaknya menjadi bukti bahwa kita memang sangat haus dengan tontonan sehingga insiden dan tragedi pun tidak lagi menghadirkan simpati. Tanpa sadar kita telah menghibur diri dengan cara yang salah dan bergembira bukan pada tempatnya. Terlepas dari soal hilangnya kepedulian, ketiadaan bioskop juga dapat diasumsikan sebagai salah satu sebab munculnya perilaku ini.

Selain itu, kondisi Aceh saat ini yang tanpa bioskop juga telah mengalihkan kita untuk menyaksikan tontonan menggelikan semisal pembubaran pengajian, pembubaran konser dan sesekali adegan semprot celana perempuan dan seterusnya. Ketiadaan bioskop memang tidak memberi kita pilihan lain selain menonton lelucon-lelucon unik di ruang publik yang sebagiannya diperankan oleh oknum-oknum yang tak pernah gembira akibat kurang hiburan.

Jika terus dibiarkan kondisi ini akan bermuara pada lahirnya kegembiraan yang bukan pada tempatnya semisal kegembiraan menonton eksekusi cambuk dan kegembiraan mengusir orang yang tak sepaham. Kegembiraan serupa ini adalah kegembiraan yang menyimpang sebab ia tumbuh di atas penindasan dan teror terhadap pihak lain.

Berpijak pada kondisi ini, sudah saatnya bioskop kembali dibuka di Aceh. Jika pun keberadaan bioskop nantinya tidak mampu melahirkan insan-insan taat yang gembira, namun  setidaknya dapat mengalihkan kegembiraan yang liar dan merusak kepada kegembiraan prosedural yang mendidik dan bermoral.  []

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here