Dulu, ketika masih kecil kami sering mengejek beberapa teman yang tampil sok jagoan di sekolah sebagai “preman lungkiek dapu.” Karena ejekan ini terus-menerus digunakan, tidak hanya oleh generasi kami, tapi juga generasi setelah kami, maka istilah itu pun sudah menjelma sebagai semacam pemeo. Namun dalam konteks peradaban milenial seperti saat ini, tidak diketahui secara pasti apakah pemeo ini masih relevan digunakan atau mungkin sudah kedaluwarsa. Sulit dipastikan, sebab sejauh ini belum ada riset yang credible terkait hal ini.

Dalam konteks kebahasaan istilah “preman lungkiek dapu” sulit diterjemahkan ke dalam bahasa lain karena ia mengandung muatan karakter yang khas. Jika pun diterjemahkan paksa ke dalam bahasa Indonesia maka ia justru menjadi istilah baru yang kehilangan makna. Penerjemahan yang membabibuta ini akan berujung pada istilah “preman pojok dapur” atau “preman celah dapur.” Oleh sebab itu saya akan tetap konsisten dengan istilah dalam bahasa aslinya – “preman lungkiek dapu”.

Perilaku “preman lungkiek dapu” dapat disebabkan oleh berbagai faktor, baik faktor sosiologis maupun politis. Tapi untuk melacak asal usul perilaku ini tampaknya hanya akan terjawab dengan pendekatan psikologis sebab sikap ini memiliki kaitan erat dengan jiwa-jiwa yang labil. Mereka yang terjangkit wabah ini adalah sosok-sosok berkepribadian ganda. Mereka adalah pribadi-pribadi yang memiliki keberanian partikular, parsial dan tidak total.

“Preman lungkiek dapu” adalah mereka yang berlagak berani di depan kucing, tapi terkencing-kencing di hadapan anjing. Kepada yang “lemah” mereka menindas dan kepada yang “kuat” mereka menjilat. Dengan redaksi yang lebih halus – “preman lungkiek dapu” senantiasa tampil buas di hadapan orang-orang yang mereka prediksi sebagai tidak berdaya, dan bersikap lunak di depan orang-orang yang mereka yakini sebagai adikuasa.

Meskipun istilah “preman lungkiek dapu” sudah terlihat lawas, khususnya di zaman like and share seperti sekarang ini, namun dalam konteks sosiologis, khususnya di Aceh, oknum-oknum yang memainkan peran konyol ini masih terbilang ramai. Kondisi ini cukup lumrah sebab untuk menjadi “preman lungkiek dapu” tidak membutuhkan pelatihan khusus. Dan yang terpenting, penyebaran karakter ini juga tidak memiliki kaitan dengan warisan genetika. Ditinjau dari aspek historis sikap ini juga tidak memiliki akar sejarah yang kuat, khususnya di Aceh.

Dalam konteks kekinian, di era Aceh pasca damai, perilaku “preman lungkiek dapu” ini dapat dengan mudah ditemukan di ruang-ruang publik. Sebagai contoh kecil adalah aksi beberapa oknum menyemprot celana perempuan yang disebutnya sebagai ketat. Dalam banyak kasus, aksi ini hanya menimpa perempuan-perempuan yang diidentifikasi sebagai “lemah” seperti mahasiswi dan wanita kampung.

Aksi serupa ini hampir tidak pernah dialami oleh polisi wanita, istri tentara atau pun istri pejabat-pejabat besar karena oleh si “preman lungkiek dapu”, perempuan pada level kedua ini diindetifikasi sebagai “kuat.” Dalam hal ini, si “preman lungkiek dapu” paham betul yang mana tanah becek yang bisa diinjak sesuka hati dan mana empueng geumoto yang jika salah ketuk saja bisa meuramah.

Baru-baru ini kita dihebohkan dengan pembubaran Band Base Jam pada acara penutupan Aceh Culinary Festival 2019 di Taman Ratu Safiatuddin pada Minggu (7/7/2019). Pembubaran itu kononnya dilakukan sekelompok orang yang terlihat gagah berani. Pertanyaannya sekarang, apakah aksi pembubaran di Banda Aceh itu juga melibatkan “preman lungkiek dapu”? Jujur saja, untuk pertanyaan semisal ini saya tidak berani berspekulasi.

Namun begitu saya mengajukan sebuah tawaran guna membuktikan tesis tentang “preman lungkiek dapu” yang telah kita urai di atas. Kononnya  Grup Band Five Minutes akan tampil dalam penutupan event Aceh Police Expo III di Lapangan Blang Padang pada 13 Juli 2019 mendatang. Jadi, kita tunggu saja apakah sekelompok orang itu juga akan membubarkan acara yang digelar pihak kepolisian itu atau tidak. Nah nanti kita akan buktikan sendiri apakah “preman lungkiek dapu” di Aceh itu benar-benar ada atau sekadar hoax. Mari menanti!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here