KAKI tanpa sandal – sepatu itu menapak di pasir putih Lampuuk, Aceh Besar. Riak ombak berlomba pecah dari gelombang agar bisa saling mengejar jejak kaki milik perempuan yang hari itu mengenakan blouse putih dengan kombinasi palazzo hitam.

Angin pantai Lampuukpun tidak mau kalah. Ikut pula menepis gerah dari terpaan matahari yang memanggang kulit perempuan politisi yang kerap mengunjungi laut.

Namun, perempuan yang sedang diuji batinnya itu, sama sekali tidak peduli. Kakinya terus saja melangkah, seakan dengan jemari kedua kakinya, ingin menulis gemuruh jiwa di atas pasir, sehingga akan segera terhapus ombak sebelum sempat dibaca oleh sunset jingga pada waktunya.

Darwati seakan tidak ingin mengukir gambaran hidupnya di atas batu, yang dapat diketahui oleh para pelayat waktu, dan juga zaman.

“Ibu, kenapa diam saja setelah apa yang Bapak lakukan mengecewakan ibu sedemikian rupa… Apa ibu tidak pernah marah?,” tanya pasir saat kaki Darwati berhenti seketika.

Entah kekuatan apa, hatinya tergerak untuk menjawab, konon lagi kala gelombang ikut merayunya, ingin mendengar pengakuan hatinya.

“Ya, kadang-kadang saya marah juga, tapi hanya di depan dia, kalau tidak bisa dielak lagi marahnya di depan keluarga, atau orang terdekat,” jawab sisi jiwa Darwati seraya melanjutkan langkah kakinya.

“Kenapa Ibu diam saja? Apa Ibu tidak pernah kecewa sama Bapak? Ibu curhatnya sama siapa?,” tanya ombak pula, sambil menghadirkan suara gemuruh, merayu.

“Sering kecewa, sering sedih, sering menangis, tapi saya ga nampakkan sama orang, saya curhatnya sama Allah, dalam shalat, dalam doa, tidak tau lagi sudah berapa banyak air mata yang keluar, mungkin sudah kering. Atau kalau sudah ga tahan lagi saya curhat ke keluarga dan sahabat terdekat saya yang saya yakini bisa menyimpan rahasia,” sebut hatinya, seraya melirik sorot matahari melalui kacamata hitam miliknya.

“Mengapa ibu tidak menulis di medsos apa yang ibu rasa?,” gali ranting-ranting yang baru saja dilangkahi oleh Darwati.

“Karena medsos tempat saya bersilaturrahmi, menambah ilmu, berbagi kebahagian, menyimpan kenangan-kenangan indah lewat photo dan video.. bukan tempat untuk saling bully, saling menyerang, berbalas pantun, apalagi untuk membuka aib keluarga, membuka aib suami. Selama saya masih menjadi istri dari suami saya, tentu saya akan menjaga semua aibnya,” tambah Darwati.

Darwati A Gani di Pantai Lampuuk, Aceh Besar (20 Juni 2019)

Sosok yang murah senyum itu lalu mengutip penggalan surat Al Bakarah ayat 187 yang artinya Istri merupakan pakaian bagi suaminya demikian juga sebaliknya suami merupakan pakaian bagi istrinya. Ini bermakna, suami istri itu sangat dekat, saling menjaga dan melindungi serta saling menutupi aib.

“Jadi, saya tidak mau setiap ada masalah dalam keluarga, langsung keluar status di medsos, itu namanya mempermalukan diri sendiri, besok baikan delete lagi statusnya,” sebutnya sambil melempar senyum satire.

“Sementara apa yang kita tulis di medsos, apa lagi tentang keburukan keluarga kita, jadi bahan gunjingan bagi orang lain yang membaca, di screenshot, disebar ke group-group WA dll, dan itu akan jadi jejak digital, walaupun kita hapus akan terus ada sepanjang masa.. Wallahu a’lam bissawab…,” tambahnya seraya memandang laut.

“Saya juga manusia biasa, yang masih ada salah-salahnya juga, di usia yang tidak muda ini lagi semoga ada manfaatnya untuk orang lain dan diberkahi Allah SWT,” tutup Darwati untuk diarynya di atas pasir. [Catatan Lepas Atika]

Leave a Reply