Aceh Barat, RUBRIKA.id — Teuku Umar. Pahlawan yang satu ini dikenal ahli siasah perang melawan penjajah. Pejuang kelahiran Meulaboh, tahun 1854 sudah terlibat perang sejak tahun 1873. Umar juga pernah menjadi Geuchik atau Kepala Desa Gampong Daya Aceh Barat. Pada Tanggal 11 Februari 1899 Teuku Umar Johan Pahlawan gugur di medan pertempuran. Sang pejuang itu beristirahat selamanya di Meugo Rayek, Kecamatan Panton Reu, Aceh Barat.

Bagi para peziarah yang sudah pernah berkunjung ke Makam Teuku Umur tentu memiliki kesan istimewa saat berada dilakasi makam suami Cut Nyak Dien ini. Selain tempatnya berbukit, sejuk dan damai ada banyak hal-hal menarik lainya dapat dilihat dan dirasakan, salah satunya ialah tradisi masakan “Kuah Beulanggong Ka’oi”.

Kuah Beulanggong Ka’oi atau gulai daging nazar itu dimasak oleh panitia atau penjaga makam secara bersama-sama dan dimakan juga bersama para pengunjung yang berminat. Daging tersebut dibawa oleh para peziarah yang melepaskan nazarnya baik berupa lembu, kerbau atau kambing. Di sana, hewan nazar disembelih lalu di masak di dapur umum.

“Banyak masyarakat yang bernazar di sini membawa kambing, kadang-kadang ada juga kerbau atau sapi,” kata Pak Merah Hasan, juru kunci Makam Teuku Umar.

Dalam waktu satu minggu rata-rata ada lima sampai delapan ekor hewan ternak yang di dibawa, sembelih dan di masak di makam pejuang yang berdarah Minangkabau ini.

Makam Teuku Umar bukan hanya dikenal sebagai wisata religi tapi juga sudah layak dijadikan destinasi wisata budaya Indonesia, pasalnya banyak juga pengunjung dari luar Aceh atau wisatawan nasional yang berziarah, bahkan ada dari negara-negara jiran, seperti Malaysia, Singapura dan Brunai Darussalam.

“Para peziarah yang datang ke sini bukan hanya warga Aceh, ada juga dari Medan, Padang, Riau, Jawa dan daerah-daerah lain. Pada waktu-waktu tertentu seperti lebaran Idul Fitri dan Idul Adha juga ada rombongan dari Malaysia, Singapura dan Brunai Darussalamm, mengunjungi makam ini,” tambahnya.

Juru kunci makam, Pak Hasan berpesan agar pemerintah sudi memperhatikan bangunan yang sudah lama untuk dapat direnopasi, karena kubah dan bangunan lainnya di komplek makam sudah pada tua, dan mulai rapuh. []

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here