SETELAH kita berpuasa sebulan penuh–bagi yang menjalankannya–tibalah kita pada bulan Syawal. Bulan bagi orang-orang yang menang setelah berperang menaklukkan hawa nafsu. Mereka sangat bergembira walaupun di sisi lain mereka berduka berpisah dengan tamu agung, bulan Ramadan.

Namun tak sedikit pula orang-orang yang kalah ikut merayakan kemenangan di bulan tersebut. Umpamanya, di tempat orang berpesta tak mungkin kita berduka walaupun kita sedang dalam masalah, tetap saja mengalir hawa kegembiraan tersebut.

Tak perlu saya uraikan lagi di sini jikalau puasa adalah sebagai upaya untuk menahan diri, saya yakin Anda semua sudah tidak awam lagi. Berulang-ulang setiap tahun penceramah menjelaskan hakikat puasa adalah menahan hawa nafsu dari berbagai godaan, baik dari yang haram bahkan dari yang halal itu sendiri.

Bicara mengenai “sabar”, memang kata sabar itu mudah untuk diucapkan, tetapi sangat sulit untuk kita terapkan. Sebagai contoh penulis menggambarkan satu kebiasaan orang-orang bahwa sabar itu mudah diucapkan tapi sulit dipraktikkan. Ketika seseorang atau pun teman kita mendapatkan musibah, dengan enteng dan bijaknya kita menasihati dia agar bersabar. Kita meminta teman kita tersebut yang sedang malang itu agar mematuhi pesan yang kita sampaikan.

Padahal, psikologis kita dengan orang yang kita nasihati tersebut jauh berbeda. Dia sedang begitu hancur, sedangkan posisi kita hanya penonton di luar panggung. Memang tidak ada yang salah menasihati orang yang sedang terkena musibah karena itu juga anjuran dalam agama kita (Islam).

Nah, artinya sesuatu yang enteng diucapkan tak seenteng ketika dilaksanakan. Begitu pula soal perilaku kita lainnya dalam kehidupan sehari-hari. Sebut saja perilaku nyinyir (meunyet-nyet). Karena perilaku ini juga dianggap sesuatu yang negatif, sejatinya kita juga menahan diri untuk tidak melakukannya.

Kalau kita ikuti atau menuruti hawa nafsu, setiap harinya kita memiliki segudang ide untuk nyinyir. Ide nyinyir yang paling sering muncul itu biasanya untuk kebijakan pemerintah. Ada saja setiap saat yang ingin kita kritisi. Kita beranggapan pemerintah tidak becus karena ada keinginan-keinginan kita yang tidak sesuai dengan kebijakan pemerintah.

Terkadang ide nyinyir itu juga terinspirasi dari perilaku teman kita yang sudah overacting mungkin atau kemunafikan-kemunafikan yang dipertontonkan. Intinya untuk jungkat keueng (mengkritik) orang lain paling nikmat dan paling mudah mendapatkan ide.

Kita terkadang “gatal tangan” ingin menulis di media sosial kepada seseorang yang dulunya dengan garang menentang penguasa yang mendatangkan ulama impor atau artis impor. Kini giliran orang yang didukung orang tersebut mendatangkan artis impor dan parahnya lagi membuat nonton bareng liga champion di malam 10 akhir Ramadan di rumah penguasa tersebut di saat di masjid-masjid sedang digalakkan qiyamullail. Di situlah tergerak-gerak tangan kita untuk membalasnya dengan nyinyiran seperti mereka lakukan dahulu.

Syaitan mengatakan “Katuleh aju (tulis saja)”, tetapi iman mengatakan “Untuk apa? Malah hanya merusak silaturahmi,”. Di sinilah perang yang paling berat berkecamuk dalam batin kita. Di sini pula menjadi tolok ukur siapa yang lebih kuat. Jika nafsu masih tidak mampu ditaklukkan, maka jadilah status nyinyir itu.

Akhirnya kita dibenci baik dalam diam maupun secara langsung, sehingga bisa mengecilkan peluang rezeki kita. Memang rezeki kita semua sudah diatur oleh yang Mahakuasa, tetapi rezeki itu Allah titipkan melalui saudara-saudara kita. Dan Allah sendiri meminta kita untuk menjaga silaturahmi serta tidak saling menyakiti.[]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here