DISEPANJANG queen street kota Auckland, para pejalan kaki hilir mudik. Gerak langkah kaki mereka terbilang cepat, di atas rata rata orang Melayu. Bisa dibayangkan bagaimana para pelancong, terutama diriku, dengan postur mini, yang juga jarang berjalan kaki, berada diantara langkah cepat itu.

Di jalan utama kota Bisnis dan kota pendidikan di Selandia Baru ini, terdapat toko-toko di kiri kanan, juga sebuah kantor semacam Komnas HAM. Dulu, aku asempat berkunjung ke sana, berbincang tentang pengalaman konflik Aceh dengan beberapa staf. Saat itu akhir 2008, ya lebih 10 tahun yang lalu.

Makin ke ujung, jalan semakin menanjak, namun masih tetap nyaman dan indah, apalagi didukung badan jalan yang lebar. Orang-orang memang tidak terlalu ramai. Tampak juga kaca-kaca toko hitam, jadi hanya terlihat nama dan pajangan di depan pelatarannya, sehingga tidak menyesakkan dan mengganggu pengguna jalan.

Di kiri sisi jalan, aku menemukan toko aksesori, yang menjual banyak sekali perhiasan dari bebatuan, ada yang khas Maori dan ada yang dari batu-batu alam diukir sangat indah, diikat dengan perak, juga tali temali.

Kulanjutkan lagi berjalan, sambil menikmati orang orang dengan busana indah. Mereka seperti baru keluar dari kabaret, perempuan jangkung dengan setelan panggung, ada syal bulu berwarna merah menyala dilehernya. Aku serasa di tengah film-film lama yang ku tonton di masa kecil, ya bayangan Elizabet Taylor muda menyergap. Dan aku hanya tersenyum saja, sungguh menikmati. Sementara suhu nyaman 14’C di sore hari. Aku pakai gaun berbahan benang, kaos kaki orange dan sepatu bertali. Angin sore merambat leher.

Kota ini dipenuhi taman-taman, bunga bunga berkelopak lembut seperti tissue dengan warna warna pink dan violet, semak-semak liar, pohon pohon seperti kaori raksasa dan palm. Pakis juga menjadi ciri khas negeri ini yang dicetak dalam bentuk daun dibendera bendera, baju, dan perhiasan perak.

Saat jalan makin mendaki, aku mencari-cari tempat istirahat, bukan lelah, tapi ingin menikmati suasana ini lebih lama dari ketinggian. Sore seperti ini saat hari terakhir orang-orang bekerja, besok sudah weekend dan banyak warga akan liburan kepulau-pulau, berenang ke pantai atau memancing, sehingga ada semacam guyon di Selandia Baru bahwa malam Senin tak ada menu lain pasti ikan.

Aku memilih duduk disebuah kursi yang kiri kanan gagangnya melengkung ke dalam mirip pucuk tanaman rambat di hutan hutan kita. Ada putik dan daun muda pula disana. Pohon kecil disisinya menambah nyaman dan artistik. Tak ada sampah, tak ada aroma parit. Aku menghirup nafas dengan sangat dalam. Duhai semesta betapa beratpun nanti dihadapanku. Kota ini sungguh telah mencabutnya sedikit demi sedikit. Kota ini kota yang membuat warganya bahagia.

Sejenak pikiranku melayang ke Kota Raja. Ada harapan membuncah, berharap Banda Aceh menjadi kota wangi, yang parfumnya menebar dari pepohonan dan bunga yang mekar. Di bawah lindungan warna hijau daun dan warna warni bunga itulah, senyuman bahagia warganya, menginspirasi damai bagi semesta nusantara, seperti wanginya nama-nama sultanah disuatu ketika, dahulu kala.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here