“Kamu saya nasehatkan untuk tidak bekerja, kecuali untuk bertempur. Kamu saya nasehatkan untuk tidak berdamai, kecuali untuk kemenangan. Biarkan pekerjaanmu menjadi bertempur, biarkan damaimu menjadi kemenangan.” (Terjemahan Ahmad Taufan Damanik)

Ungkapan di atas dikutip Hasan Tiro yang kabarnya dari karya Nietzsche. Karya filsuf barat ini disebut menjadi salah satu bacaan Hasan Tiro, seperti, Thus Spoke Zarathustra yang dikliam banyak orang sebagai gambaran spiritualitas Nietzsche.

Apakah nasehat itu cukup mewakili “spiritualitas” aneuk manyak Aceh, yang mengekpresikan ritual peperangan di saban momentum idul fitri lewat aksi perang-perangan dengan senjata mainan?

Sedikit menjenguk riwayat, Aceh boleh dibilang memang tidak pernah jeda panjang dengan perang. Jikapun ada masa damai, gejolak senantiasa tetap berlangsung.

Jadi wajar bila Aceh pernah disebut Nanggroe Bade Tan Reuda. Dekatnya perang dengan Aceh juga terlukis pasa pepatah “Ureung Aceh jak meuprang, ureung Padang jak meuniaga, ureung Batak duek di Ganto, nyang meu-ato syit ureung Jawa.” Adakah ini menjadi model pengembaraan dan pendakian spiritualitas Nietzsche yang diadopsi Hasan Tiro.

Orang Aceh memang sungguh-sungguh berperang, hingga Pramoedya menilai ureung Aceh berani walau sendiri. Jadi, perang sudah dilalui Aceh dengan penuh keberanian, berjilid-jilid pula. Dan dengan keberanian pula, Aceh berdamai, guna meraih kemenangan, berupa tegaknya keadilan. Makna merdeka diri menjadi “kaffah.”
Jadi, orang Aceh berani berperang, juga berani berdamai. Jika sudah berperang, ia akan sungguh-sungguh berperang, begitu pula, jika sudah berdamai ia juga sungguh-sungguh agar damai menjadi kemenangan.

Tapi, yang namanya perang tidak pernah usai, serdadu bisa jadi pensiun, tapi para pejuang akan kembali memimpin “pertempuran” sampai kemenangan yang nyata terwujud, yaitu keadilan dan kebebasan ambil bagian dalam rumah global.
Itulah sebabnya barangkali, Hasan Tiro memerlukan diri yang merdeka agar dalam semua pekerjaan perang hadir para pejuang, bukan sekedar serdadu biasa. Serdadu biasa bisa jadi menjadi bagian meraih kemenangan atas musuh, tapi hanya pejuang yang bisa meraih kemenangan sejati, yaitu wujudnya keadilan dan demokrasi sejati di Aceh.

Dan, dari permainan perang perangan itu, pada waktunya akan terseleksi, siapa serdadu, siapa pejuang, yang dirinya merdeka, yang jiwanya lurus ke langit, berkasih sayang di sesama penghuni bumi.
Lantas, adakah pula potret keacehan yang sedemikian itu, menjadi sebab beberapa orang dilingkar kekuasaan Jakarta masih saja teukeujot roh, hingga reflek merespon keras terhadap sesuatu yang baunya diduga mengarah ke perlawanan, seperti wacana referendum

Kalaulah benar maka nilai utama dari pesan Hasan Tiro belum ditangkap dengan baik, laksana kerap kelirunya orang memahami Friedrich Nietzsche. Padahal, model pengembaraan dan pendakian ureung Aceh itu menjelaskan watak merdekanya diri. Disinilah dudukan pernyataan Hasan Tiro “orang merdeka adalah seorang pejuang” ditemukan maknanya. Bagi Aceh, alam raya adalah universitas terbuka yang ijazah utamanya adalah kehormatan. Dan untuk itu, tidak ada pendidikan yang lemah gemulai – keras, bung! []

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here